AdiParwa - PENCARIAN TIRTA AMERTA

Sauti berkata, “Dengarkanlah, wahai para Rishi, kisah suci tentang bagaimana para Dewa dan Asura memperoleh Tirta Amerta, air keabadian yang tiada bandingnya itu.

Sauti berkata,
“Dengarkanlah, wahai para Rishi, kisah suci tentang bagaimana para Dewa dan Asura memperoleh Tirta Amerta, air keabadian yang tiada bandingnya itu.

PENCARIAN TIRTA AMERTA

Pada suatu masa, para Dewa kehilangan kekuatan mereka. Mereka menjadi lemah, tidak mampu menandingi para Asura dalam pertempuran.

Maka mereka pergi menghadap Sri Wisnu dan berkata,
‘Wahai Tuhan semesta alam, kami telah kehilangan kekuatan kami. Tanpa pertolongan-Mu, kami tidak akan mampu bertahan melawan para Asura.’

Mendengar itu, Sri Wisnu menjawab,
‘Wahai para Dewa, janganlah berputus asa. Bersatulah dengan para Asura dan aduklah samudra susu. Dari sana akan muncul Tirta Amerta. Dengan meminumnya, kalian akan memperoleh kembali kekuatan dan keabadian.’

Para Dewa pun berkata,
‘Bagaimana mungkin kami bekerja sama dengan musuh kami sendiri?’

Sri Wisnu berkata,
‘Demi tujuan yang lebih besar, lakukanlah itu. Pada waktunya, Aku akan memastikan kemenangan berada di pihak kalian.’

Kemudian para Dewa mendatangi para Asura dan berkata,
‘Marilah kita bekerja sama untuk memperoleh Amerta. Kita akan membaginya secara adil.’

Para Asura, yang penuh ambisi akan keabadian, menjawab,
‘Baiklah, kami setuju. Tunjukkan bagaimana caranya.’

Sauti melanjutkan,
“Maka Gunung Mandara dijadikan pengaduk, dan naga raksasa Vasuki dijadikan tali.

Para Dewa memegang ekor Vasuki, sedangkan para Asura memegang kepalanya.

Ketika pengadukan dimulai, samudra bergolak dengan dahsyat, menimbulkan suara gemuruh yang mengguncang seluruh alam.

Namun tak lama kemudian, Gunung Mandara tenggelam ke dalam samudra.

Melihat itu, para Dewa berseru,
‘Wahai Wisnu! Selamatkanlah kami!’

Maka Sri Wisnu menjelma menjadi kura-kura raksasa (Kurma), menopang gunung itu di punggung-Nya, sehingga pengadukan dapat dilanjutkan.”

Sauti berkata,
“Ketika samudra terus diaduk, muncullah racun yang sangat mematikan, yang dikenal sebagai Halahala.

Racun itu menyebar ke seluruh penjuru dan mengancam menghancurkan dunia.

Para Dewa dan Asura ketakutan, lalu berkata,
‘Siapakah yang dapat menyelamatkan kita dari kehancuran ini?’

Maka mereka memohon kepada Mahadewa Siwa.

Dan Siwa, penuh kasih kepada semua makhluk, berkata,
‘Aku akan menanggung racun ini demi keselamatan dunia.’

Setelah berkata demikian, beliau meminum racun itu.

Parwati menahan racun itu di lehernya, sehingga tidak turun ke tubuhnya.

Sejak saat itu, Siwa dikenal sebagai Nilakantha, yang berleher biru.”

Sauti melanjutkan,
“Setelah racun itu lenyap, pengadukan kembali dilanjutkan.

Dari samudra muncul berbagai harta dan makhluk suci—
kuda Ucchaihshravas, gajah Airavata, dewi Sri (Lakshmi), dan banyak lagi yang lainnya.

Akhirnya, muncullah Dhanvantari, membawa kendi berisi Tirta Amerta.

Melihat itu, para Asura dengan cepat merebutnya dan berkata,
‘Amerta ini milik kami! Kami yang lebih kuat!’

Para Dewa menjadi cemas dan berkata,
‘Bagaimana kami dapat memperoleh bagian kami?’

Maka Sri Wisnu menjelma menjadi Mohini, seorang wanita yang sangat cantik dan mempesona.

Melihat Mohini, para Asura menjadi terpesona dan berkata,
‘Wahai wanita yang cantik, bagikanlah Amerta ini kepada kami secara adil.’

Mohini tersenyum dan berkata,
‘Jika kalian percaya kepadaku, aku akan membagikannya tanpa berat sebelah.’

Para Asura menjawab,
‘Kami percaya kepadamu sepenuhnya.’

Sauti berkata,
“Namun dengan kecerdikannya, Mohini membagikan Amerta itu hanya kepada para Dewa.

Para Asura, yang terpesona oleh kecantikannya, tidak menyadari tipu daya itu.

Di antara mereka, ada seorang Asura bernama Rahu yang menyamar sebagai Dewa dan duduk di antara mereka.

Ia berhasil meminum setetes Amerta.

Namun Matahari dan Bulan melihatnya dan berkata kepada Wisnu,
‘Ia bukan Dewa! Ia adalah Asura!’

Dengan segera, Wisnu memenggal kepala Rahu.

Tetapi karena ia telah menyentuh Amerta, kepalanya menjadi abadi.

Sejak saat itu, Rahu terus memburu Matahari dan Bulan, berusaha menelan mereka.”

Sauti berkata,
“Demikianlah, wahai para Rishi, para Dewa memperoleh kembali kekuatan mereka dan mengalahkan para Asura.

Dan kisah ini tetap dikenang sebagai pelajaran tentang kebijaksanaan, pengorbanan, dan akibat dari keserakahan.”

PROMOSI BUKU

📖 Serial Mahabharata – Adi Parwa I
Alih Bahasa Oleh IBM Jaya Martha
Berdasarkan terjemahan Bahasa Inggris karya Kisari Mohan Ganguli (Project Gutenberg)

Dalam buku ini Anda akan mendapatkan:
✔ Kisah lengkap Samudra Manthana dengan dialog utuh
✔ Alih bahasa setia tanpa mengubah makna
✔ Struktur asli Mahabharata (SECTION & dialog dipertahankan)
✔ Nilai dharma, tattwa, dan filosofi yang mendalam

Jika kisah ini saja sudah membuka wawasan…

Maka versi lengkapnya akan membawa Anda lebih dalam—
bukan hanya memahami cerita,
tetapi menyelami makna kehidupan di dalamnya.

📚 Miliki sekarang – Adi Parwa I
dan jadikan Mahabharata bukan sekadar cerita,
melainkan tuntunan hidup.

Bagikan artikelWhatsApp