Terjemahan bebas:
“Ketika seseorang tidak lagi terikat oleh kegelisahan pikiran, ia tidak larut dalam kesibukan dunia semata. Ia tetap menjalankan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh, namun sandaran utamanya berada pada kejernihan batinnya sendiri.”
“Ri telasira macintya tan kangen ring malatis… Ya ta kahilangan ikang wwang pet prihening swakaryya, wekasi wekasing dharmma wwaswasana ring swacitta…” — Dharma Putus, 6a
Om Swastyastu,
Sebagai grahasta dan pekerja, hidup kita hampir setiap hari dipenuhi target, kewajiban, tekanan pekerjaan, kebutuhan keluarga, cicilan, dan berbagai urusan duniawi. Kadang tubuh bekerja di kantor, tetapi pikiran masih dibawa pulang ke rumah. Bahkan saat bersama keluarga, hati tetap dipenuhi kegelisahan pekerjaan.
Lontar Dharma Putus mengingatkan sesuatu yang sangat penting:
bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan kehilangan diri sendiri.
Ajaran ini tidak menyuruh kita meninggalkan pekerjaan. Justru sebaliknya, kita diminta tetap menjalankan kewajiban dan tanggung jawab dengan baik. Namun batin jangan diperbudak oleh:
-pujian,
-jabatan,
-ambisi berlebihan,
-ataupun ketakutan akan penilaian orang lain.
Karena bila pikiran terus melekat pada kegelisahan, hidup terasa berat walaupun secara materi terlihat cukup.
Hari ini banyak orang:
-sibuk, tetapi tidak tenang,
-berhasil, tetapi mudah marah,
-punya penghasilan, tetapi kehilangan waktu bersama keluarga,
-selalu online, tetapi jauh dari dirinya sendiri.
Dharma Putus mengajarkan:
di tengah kesibukan, tetaplah punya ruang hening di dalam diri.
Bekerja dengan tulus, pulang dengan damai, berbicara dengan lembut kepada keluarga, tidur tanpa membawa dendam atau tekanan pekerjaan—itulah latihan Dharma dalam kehidupan sehari-hari.
Kadang ketenangan bukan datang karena pekerjaan selesai, tetapi karena hati belajar melepaskan keterikatan yang berlebihan.
Semoga kita semua mampu menjadi pekerja yang tekun, sekaligus manusia yang tetap sadar, tenang, dan tidak kehilangan arah hidup.
Om Shanti Shanti Shanti Om.