Ketika seorang anak memakai gelang benang tridatu di tangannya, sesungguhnya ia sedang membawa sebuah pengingat kecil tentang perjalanan hidup manusia. Gelang itu mungkin sederhana, hanya terdiri dari tiga helai benang berwarna merah, putih, dan hitam. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan ajaran yang sangat dalam tentang bagaimana manusia menjaga pikiran, ucapan, dan perbuatannya.
Benang Tridatu: Pengingat Kecil Sebagai Teman Perjalanan Hidup
“... amanggih ta sira naga magong umangang kiwiknya ghora rupa, tumuli sang Rsi umanjing ri tutuk nikang naga. Saprapta nireng jero wetenging naga, kapanggih telaga esi tunjung tiga warna, kang wetan putih, kang kidul abang, kang lor ireng…”
[Lontar Dwijendra Tattwa Lempir 4b, Koleksi UNUD]
Om Swastyastu,
Dalam tradisi Bali, tridatu sering dikaitkan dengan kekuatan suci Brahma, Wisnu, dan Siwa. Tetapi bagi seorang anak, filosofi itu dapat dijelaskan dengan lebih dekat kepada kehidupan sehari-hari. Warna merah mengingatkan agar memiliki semangat dan keberanian untuk berbuat baik. Berani berkata jujur, berani meminta maaf, dan berani membela yang benar. Sebab keberanian bukan berarti marah atau menang sendiri, melainkan kuat melakukan kebaikan.
Warna putih mengajarkan tentang hati dan pikiran yang bersih. Saat anak melihat benang putih di tangannya, ia diingatkan agar tidak mudah berkata kasar, tidak mudah iri, dan belajar berpikir tenang sebelum bertindak. Putih adalah simbol kejernihan hati, karena manusia yang pikirannya bersih akan lebih mudah menemukan jalan yang benar.
Sedangkan warna hitam mengajarkan keteguhan. Hidup tidak selalu mudah. Kadang ada kegagalan, kesedihan, rasa takut, atau kecewa. Hitam mengingatkan agar manusia tidak mudah menyerah. Seperti bumi yang kuat menahan pijakan semua makhluk, demikian pula manusia perlu belajar kuat menghadapi kehidupan.
Dalam kisah-kisah spiritual Bali, Danghyang Nirartha pernah melakukan tapa hingga mencapai simbol Nagaloka. Nagaloka bukan hanya dimaknai sebagai alam para naga, tetapi juga perlambang dunia batin manusia yang penuh godaan, rasa takut, kemarahan, dan hawa nafsu. Seorang pertapa tidak hanya menaklukkan dunia luar, tetapi terutama menaklukkan “naga” di dalam dirinya sendiri.
Karena itulah benang tridatu bukan sekadar hiasan tangan ataupun pelindung lahiriah. Ia adalah pengingat agar manusia selalu sadar menjaga dirinya. Ketika tangan memakai tridatu, tangan itu diingatkan agar tidak menyakiti. Ketika mata melihat tridatu, pikiran diingatkan agar tetap jernih. Ketika hati mulai marah atau sedih, tridatu mengingatkan agar kembali tenang.
Sedikit demi sedikit, generasi muda belajar memahami bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari benda yang dipakai, melainkan dari sikap hidup yang dijalankan setiap hari. Gelang tridatu akhirnya menjadi seperti sahabat kecil yang selalu mengingatkan:
beranilah berbuat baik,
jagalah hati tetap bersih,
dan kuatlah menghadapi kehidupan.
Sebab manusia yang mampu menjaga ketiga hal itu, perlahan akan mampu menaklukkan “naga” di dalam dirinya sendiri.
Dan tulisan ini semoga menjadi salah satu sarana “pasupati” yang artinya mengikat atau menstanakan kekuatan Dewa Siwa (Sang Hyang Pasupati) pada suatu benda. Gelang tridatu yang ananda pakai, dengan pengertian ini, tidak hanya hiasan semata, namun menjadi teman pengingat perjalanan hidup yang harus dihormati.
Demikian cuplikan dari Lontar Dwijendra Tattwa, relevansi nya sebagai alat pengingat generasi muda ketika dia berfungsi sebagai gelang tridatu.
Om Shanti, Shanti, Shanti Om
IBM Jaya Martha
Jika ingin mendapatkan tulisan-tulisan di atas setiap harinya, bisa bergabung di group Whatsapp
https://chat.whatsapp.com/DjiIDtDlSOpL5LAbpXzz6j
Atau bergabung ke saluran Whatsapp
https://whatsapp.com/channel/0029Vb7g16FKbYMEIoTeeG3D