CATUR MARGA SEBAGAI POLA PENDIDIKAN HINDU

Kegiatan ngayah dalam rangka piodalan bukan sekadar aktivitas ritual, melainkan ruang hidup pendidikan yang nyata. Di tengah kesibukan krama banjar, khususnya di lingkungan Banjar Jakarta…

Kegiatan ngayah dalam rangka piodalan bukan sekadar aktivitas ritual, melainkan ruang hidup pendidikan yang nyata. Di tengah kesibukan krama banjar, khususnya di lingkungan Banjar Jakarta Utara, berlangsung proses transfer of knowledge yang alami, lintas generasi, dan sarat makna.

Om Swastyastu,

Para senior dengan penuh kesabaran membimbing generasi muda dalam berbagai bidang: dari serati banten, pembuatan caru, merangkai sarana upacara seperti klakat, hingga seni megamel, mekidung, dan penulisan huruf Bali (modre) untuk ulap-ulap dan kajang. Semua berlangsung tanpa ruang kelas formal, tetapi justru hidup dalam praktik nyata yadnya.

Jika dicermati lebih dalam, pola pendidikan yang terjadi di lingkungan banjar ini sesungguhnya mencerminkan filosofi Catur Marga.

Catur Marga dalam Perspektif Pendidikan

Secara umum, Catur Marga dikenal sebagai empat jalan mendekatkan diri kepada Hyang Widhi, yaitu:

-Bhakti Marga (jalan pengabdian),

-Karma Marga (jalan perbuatan),

-Jnana Marga (jalan pengetahuan),

-Raja Marga (jalan pengendalian diri).

Namun dalam praktik kehidupan banjar, keempatnya tidak hanya menjadi jalan spiritual, tetapi juga membentuk sistem pendidikan bertahap dan berjenjang.

Menariknya, pola ini sejalan dengan empat pilar pendidikan UNESCO:

-Learning to know

-Learning to do

-Learning to be

-Learning to live together

Dengan demikian, kearifan lokal kita ternyata telah lebih dahulu mengandung filosofi pendidikan modern.

Tahap 1: Bhakti Marga – Learning to Know

Pada tahap awal, krama banjar yang baru berperan sebagai pembelajar. Mereka diperkenalkan pada dasar-dasar keterampilan, seperti membuat canang sari atau jejahitan sederhana.

Pembelajaran dilakukan melalui:

-Pengamatan langsung

-Peniruan

-Pengulangan terus-menerus

Namun inti dari tahap ini bukan sekadar keterampilan, melainkan sikap batin.

Seorang pembelajar dituntut menunjukkan:

-Bhakti (rasa hormat)

-Disiplin

-Ketekunan

-Kesungguhan

Di sinilah fondasi pengetahuan dibangun: mengetahui dengan hati yang hormat.

Tahap 2: Karma Marga – Learning to Do

Setelah memahami dasar, pembelajar mulai memasuki tahap praktik mandiri.

Ciri utama tahap ini:

-Mulai mampu bekerja sendiri

-Bimbingan senior berkurang

-Tanggung jawab meningkat

Namun yang paling penting adalah nilai yang ditanamkan:

bekerja tanpa pamrih (lascarya)

Pada tahap ini, keterampilan tidak hanya dikuasai, tetapi juga dimaknai sebagai bentuk pengabdian.

Tahap 3: Jnana Marga – Learning to Be

Pada tahap ini, seorang krama tidak hanya terampil, tetapi juga memahami makna dari setiap yadnya.

Ciri-cirinya:

-Memiliki pemahaman konseptual

-Mampu melihat hubungan antar proses

-Tumbuh keinginan untuk berbagi ilmu

Di sinilah seseorang “menjadi” dirinya:

bukan sekadar pelaku, tetapi pembawa nilai dan pengetahuan

Tahap ini melahirkan figur-figur pembimbing baru dalam banjar.

Tahap 4: Raja Marga – Learning to Live Together

Tahap tertinggi adalah pengendalian diri dan kedewasaan sosial.

Individu pada tahap ini:

-Mampu mengendalikan emosi

-Bijak dalam menyikapi perbedaan

-Terbuka terhadap masukan

-Menjaga harmoni dalam kebersamaan

Ia tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.

Di sinilah puncak pendidikan tercapai:

hidup selaras dalam kebersamaan

Refleksi: Kearifan Lokal yang Mendunia

Apa yang dirumuskan oleh UNESCO sebagai empat pilar pendidikan, sesungguhnya telah hidup dalam praktik keseharian masyarakat Hindu melalui ajaran Catur Marga.

Banjar bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi:

-ruang belajar

-ruang pembentukan karakter

-ruang pewarisan budaya

-ruang pembinaan spiritual

Tanpa disadari, proses pendidikan yang terjadi di banjar telah mencakup seluruh dimensi manusia:

pengetahuan, keterampilan, kepribadian, dan sosial.

Penutup

Catur Marga tidak hanya menjadi jalan menuju Hyang Widhi, tetapi juga menjadi jalan untuk membentuk manusia seutuhnya.

Melalui ngayah, generasi muda tidak hanya belajar “melakukan”, tetapi juga belajar “menjadi” dan “hidup bersama”.

Semoga pemahaman ini semakin menumbuhkan sraddha dan bhakti, serta menguatkan keyakinan bahwa warisan leluhur kita mengandung kebijaksanaan yang universal dan relevan sepanjang zaman.

SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2 MEI 2026

Om Shanti, Shanti, Shanti, Om

IBM Jaya Martha

Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan

PHDI DKI Jakarta

Bagikan artikelWhatsApp