Ruktine ngangkah ngukut,
Ngiket ngruket triloka kakukut,
jagad agung ginulung lan jagad alit,
den kendel kumandel kulup,
Mring kilaping alam kono.
Om Swastyastu,
Tembang Gambuh dari Serat Wedatama ini menyimpan ajaran yang sangat dalam. Bila dibaca sekilas, ia tampak sebagai tembang kuno yang indah. Namun bila direnungkan lebih jauh, di dalamnya terdapat kerangka berpikir yang sangat relevan dengan manajemen strategi modern.
“Ruktine ngangkah ngukut” mengajarkan bahwa setiap cita-cita besar harus dimulai dari persiapan. Rukti berarti kesiapan. Ngangkah berarti menetapkan arah atau tujuan. Ngukut berarti merancang cara untuk mencapainya. Dalam bahasa manajemen modern, ini adalah tahap merumuskan visi, misi, tujuan, strategi, dan alternatif jalan. Sebuah organisasi tidak cukup hanya memiliki keinginan besar. Ia harus tahu dengan jelas apa yang ingin dicapai, mengapa hal itu penting, dan bagaimana langkah mencapainya.
Setelah tujuan dan strategi dirumuskan, tembang ini melanjutkan dengan “ngiket ngruket”. Ngiket dapat dimaknai sebagai upaya mengikat kesadaran bersama. Strategi tidak boleh hanya tersimpan di pikiran pemimpin atau dalam dokumen resmi. Ia harus dikomunikasikan kepada seluruh tim. Semua orang perlu memahami arah, prioritas, dan perannya masing-masing. Setelah itu barulah “ngruket”, yaitu bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai tugas, fungsi, kemampuan, dan bakat masing-masing. Inilah pentingnya alignment dalam organisasi.
Ungkapan “triloka kakukut” dapat dimaknai sebagai kesadaran bahwa tujuan besar memerlukan tiga kekuatan utama. Pertama, jnana atau pengetahuan dan know-how. Kedua, wirya atau daya, keberanian, kepemimpinan, dan kemampuan menggerakkan. Ketiga, sumber daya, baik manusia, dana, waktu, teknologi, maupun jaringan. Bila salah satu unsur ini tidak tersedia, strategi yang baik sering kali gagal menjadi kenyataan.
“Jagad agung ginulung lan jagad alit” mengingatkan bahwa sebelum membangun sesuatu yang besar, manusia perlu membuat gambaran kecilnya terlebih dahulu. Sebelum gedung tinggi dibangun, arsitek membuat gambar dan maket. Sebelum sistem diterapkan secara nasional, perlu dibuat prototype atau pilot project. Sebelum strategi dijalankan penuh, perlu diuji dalam skala terbatas. Inilah proses mental creation sebelum physical creation.
Setelah rancangan diuji, barulah “den kendel kumandel kulup”. Artinya, beranilah melangkah dengan keyakinan. Pemimpin tidak boleh berhenti pada wacana. Setelah visi jelas, strategi tersusun, tim memahami arah, sumber daya siap, dan model telah diuji, maka tahap berikutnya adalah eksekusi. Keberanian diperlukan agar rencana tidak tinggal menjadi tulisan.
Akhirnya, semua tahapan itu diarahkan “mring kilaping alam kono”, menuju cahaya masa depan yang dicita-citakan. Di sinilah keagungan tembang kuno terlihat. Ia tidak hanya mengajarkan kebatinan, tetapi juga tata cara berpikir strategis: mempersiapkan diri, menentukan tujuan, merancang jalan, menyatukan tim, memastikan kemampuan, menguji model, lalu mengeksekusi dengan keberanian.
Maka Serat Wedatama memberi pelajaran penting bagi para pemimpin masa kini. Kebijaksanaan leluhur tidak kalah dari teori manajemen modern. Bahkan, ia sering kali lebih utuh karena memadukan visi, disiplin, kebersamaan, keberanian, dan kesadaran batin. Tembang kuno ini mengingatkan bahwa strategi yang baik bukan hanya urusan angka dan dokumen, tetapi juga kejernihan pikiran, kematangan jiwa, dan keteguhan dalam mewujudkan cita-cita bersama.
Demikian semoga kajian ini bermanfaat.
Om Santi, Santi, Santi Om
IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta
“Mari bersama menyelamatkan warisan sastra Hindu agar dapat dibaca, dipahami, dan diwariskan kepada generasi muda.”
Untuk menerima renungan sastra dan alih bahasa lontar setiap hari, silakan ikuti Saluran Kawi Sastra Mandala.
https://whatsapp.com/channel/0029Vb7g16FKbYMEIoTeeG3D