Dalam Anugita Parwa, bagian dari Aswamedha Parwa, ada satu peristiwa yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Setelah perang besar Bharatayuddha selesai, suasana sudah berubah. Tidak ada lagi gemuruh kereta perang, tidak ada lagi suara busur Gandiva di medan Kurukshetra, dan tidak ada lagi ketegangan antara hidup dan mati.
Om Swastyastu,
Arjuna dan Krishna berjalan bersama di istana yang indah. Saat itulah Arjuna teringat kembali pada pengalaman agung menjelang perang. Ia pernah melihat kebesaran Krishna sebagai Penguasa alam semesta. Ia juga pernah menerima ajaran suci langsung dari Krishna. Tetapi dengan jujur Arjuna berkata bahwa ajaran itu telah ia lupakan karena kelemahan pikirannya. Ia ingin mendengarnya kembali, apalagi Krishna akan segera kembali ke Dwaraka.
Pengakuan Arjuna ini sangat manusiawi. Arjuna bukan orang biasa. Ia ksatria besar, sahabat Krishna, dan murid yang pernah menerima wejangan langsung dari Tuhan. Namun ia tetap bisa lupa. Ini mengajarkan bahwa ilmu dharma, walaupun pernah didengar, tidak otomatis menetap dalam hati bila tidak terus diingat, direnungkan, dan dijalankan.
Krishna menjawab dengan lembut, tetapi tegas. Ia mengatakan bahwa dahulu Ia telah menyampaikan ajaran rahasia yang abadi, dharma sejati, dan hakikat Brahman. Namun Krishna tidak mengulanginya persis seperti dahulu, sebab saat itu Ia berbicara dalam keadaan yoga. Sebagai gantinya, Krishna menyampaikan ajaran baru melalui kisah seorang brahmana tentang moksha, jiwa, kelahiran dan kematian, pahala dan dosa, karma, pengendalian indra, yoga, serta jalan menuju pembebasan.
Di sinilah mutiara dharmanya. Ilmu yang pernah didengar bisa pudar bila hanya disimpan sebagai ingatan. Nasihat yang dulu menyentuh hati bisa hilang ketika keadaan sudah nyaman. Saat susah, manusia mudah ingat Tuhan. Saat sakit, manusia berjanji akan hidup lebih tertib. Saat usaha sulit, doa menjadi lebih sungguh-sungguh. Tetapi setelah keadaan membaik, sering kali kebiasaan lama kembali.
Bukankah kita sering demikian?
Ketika menghadapi masalah keluarga, kita mencari nasihat. Setelah keadaan tenang, nasihat itu tidak lagi dibuka. Ketika kehilangan orang yang dikasihi, kita merenungkan hidup dengan dalam. Tetapi setelah waktu berlalu, kita kembali sibuk, mudah marah, iri, dan dikuasai ambisi.
Arjuna mengingatkan kita bahwa lupa bukan hanya masalah ingatan, tetapi masalah kesadaran. Ilmu yang tidak dijaga akan tertutup oleh kesibukan, kesenangan, kebanggaan, dan kelalaian. Karena itu, dharma tidak cukup hanya didengar sekali. Dharma harus dibaca ulang, dipikirkan ulang, dibicarakan ulang, dan yang paling penting, dipraktikkan.
Krishna tidak memarahi Arjuna. Ia justru mengajarkan kembali melalui jalan lain. Ini menunjukkan bahwa belajar dharma tidak pernah selesai. Kadang ajaran yang sama perlu hadir dalam bentuk berbeda. Dulu Arjuna menerima Bhagavadgita di medan perang. Kini ia menerima Anugita setelah perang selesai. Artinya, ajaran luhur tetap perlu dipelihara, bukan hanya ketika bahaya datang, tetapi juga ketika hidup sudah tenang.
Maka, jangan malu untuk belajar kembali. Jangan merasa sudah tahu hanya karena pernah mendengar. Dalam dharma, pengulangan bukan kelemahan. Pengulangan adalah cara menjaga api pengetahuan agar tidak padam.
Ilmu dharma seperti pelita. Ia harus terus diberi minyak. Bila tidak dirawat, nyalanya mengecil. Bila tidak dipraktikkan, ia hanya menjadi pengetahuan di kepala, bukan cahaya di hati.
Karena itu, mari bertanya kepada diri sendiri: berapa banyak nasihat baik yang pernah kita dengar, tetapi belum kita jalankan? Berapa banyak petuah orang tua dan guru yang hanya kita simpan, tetapi belum kita praktikkan?
Membaca Serial Mahabharata adalah salah satu jalan untuk mengingat kembali ajaran adiluhung itu. Di dalamnya tersimpan kisah para raja, resi, ksatria, ibu, guru, sahabat, dan manusia biasa yang bergulat dengan dharma. Kita tidak hanya membaca cerita masa lalu, tetapi sedang bercermin pada kehidupan sendiri.
Mari membaca kembali Mahabharata, bukan hanya untuk mengetahui jalan cerita, tetapi untuk menghidupkan kembali kebijaksanaan yang mungkin pernah kita dengar, namun belum sepenuhnya kita jalankan.
Om Shanti, Shanti, Shanti Om
IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta