Jangan Biarkan Pustaka Leluhur Menjadi Bisu

Kita sering bangga mengatakan lontar adalah warisan budaya yang adiluhung. Namun, berapa banyak generasi muda hari ini yang masih mampu membaca aksara Bali dan memahami bahasa Kawi?

Kita sering bangga mengatakan lontar adalah warisan budaya yang adiluhung. Namun, berapa banyak generasi muda hari ini yang masih mampu membaca aksara Bali dan memahami bahasa Kawi?

Om Swastyastu,

Lontar dapat bertahan ratusan tahun secara fisik, tetapi pengetahuan di dalamnya dapat perlahan “mati” ketika tak lagi ada yang memahami isinya.

Leluhur tidak menulis agar karya mereka hanya disimpan.

Mereka menulis untuk menyampaikan pengetahuan.

Karena itu, alih aksara dan alih bahasa bukanlah upaya menggantikan aksara Bali atau bahasa Kawi. Justru sebaliknya: ia menjadi jembatan agar generasi sekarang dapat kembali mendekati warisan leluhurnya.

Ketika seorang anak muda membaca lontar dalam bahasa yang dipahaminya, lahirlah rasa ingin tahu. Dari memahami tumbuh penghargaan. Dari penghargaan tumbuh keinginan untuk mempelajari sumber aslinya.

Siwa Sasana mengingatkan:

“...lota mangabyasa sastra mwang amarahana mangaji...”

Teruslah mempelajari sastra dan mengajarkan ilmu.

Maka pekerjaan mencari naskah lama, mengalihaksarakan, menerjemahkan, mengkaji, dan menerbitkannya kembali adalah bagian dari memperpanjang umur kebudayaan.

Pekerjaan ini mungkin sunyi. Tidak selalu populer. Tidak selalu menghasilkan keuntungan besar. Tetapi bayangkan bila tidak ada yang melakukannya.

Suatu hari kita mungkin masih memiliki ribuan lontar, tetapi semakin sedikit orang yang mengetahui pesan para leluhur di dalamnya.

Pelestarian budaya bukan hanya menjaga lontar agar tidak rusak.

Lontar harus dibaca.
Lontar harus dipahami.
Lontar harus diwariskan.

Alih bahasa adalah salah satu jalannya.

Sebab menghormati para pujangga lama bukan hanya dengan memuji karya mereka sebagai warisan masa lalu, tetapi dengan membuat suara mereka tetap dapat didengar oleh generasi masa depan.

Jangan biarkan pustaka leluhur menjadi bisu.

Semoga renungan ini bermanfaat.

Om Santi, Santi, Santi Om

IBM Jaya Martha

Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta

Bagikan artikelWhatsApp