Dalam hidup sehari-hari, sering kali kita menjaga tangan agar tidak memukul, menjaga kaki agar tidak melangkah ke tempat yang salah, tetapi lupa menjaga lidah. Padahal, dalam Anusasana Parwa II, Bhishma mengingatkan Yudhishthira bahwa ucapan juga dapat menjadi sumber luka. Bahkan luka karena kata-kata kadang lebih dalam daripada luka karena senjata.
Bhishma berkata bahwa kata-kata yang menyakitkan ibarat anak panah. Kalau panah besi menancap di tubuh, masih ada kemungkinan dicabut. Lukanya dapat dibersihkan, diberi obat, lalu perlahan mengering. Tetapi kata-kata yang kasar, hinaan, ejekan, dan sindiran tajam sering kali menancap di hati. Ia tidak berdarah, tetapi terasa sakit. Ia tidak tampak dari luar, tetapi dikenang siang dan malam.
Karena itu, Bhishma menasihati agar manusia jangan mudah mengejek orang lain. Jangan mengejek orang miskin karena kemiskinannya. Jangan merendahkan orang bodoh karena keterbatasannya. Jangan menertawakan orang cacat, orang lemah, orang tua, atau siapa pun yang sedang berada dalam kekurangan. Orang yang sedang susah sudah memikul beban hidupnya sendiri. Jangan sampai ucapan kita menjadi batu tambahan yang membuatnya semakin berat.
Di sinilah dharma mengajarkan kelembutan. Kadang kita merasa hanya bercanda, tetapi bagi orang lain itu bisa menjadi luka. Kadang kita merasa sedang menasihati, tetapi karena disampaikan dengan kasar, nasihat itu berubah menjadi penghinaan. Kadang kita merasa benar, tetapi kebenaran yang disampaikan tanpa kasih dapat melukai lebih dalam daripada kesalahan itu sendiri.
Banyak keluarga pecah bukan karena persoalan besar, tetapi karena ucapan yang tidak dijaga. Anak terluka oleh kata-kata orang tua. Orang tua sedih karena jawaban kasar anaknya. Saudara menjauh karena sindiran. Sahabat menjadi dingin karena kalimat yang merendahkan. Di tempat kerja pun demikian: satu ucapan atasan dapat mematikan semangat bawahan, dan satu komentar tajam dapat membuat orang kehilangan percaya diri.
Maka, menjaga ucapan adalah tapa harian. Tidak semua orang mampu bertapa di gunung. Tidak semua orang mampu berpuasa panjang. Tidak semua orang mampu melakukan yadnya besar. Tetapi setiap orang dapat bertapa melalui lidahnya: menahan kata-kata kasar, menunda jawaban saat marah, memilih kalimat yang lebih lembut, dan tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai bahan tertawa.
Lidah yang dijaga dapat menjadi sarana dharma. Dengan lidah, kita bisa menghibur yang sedih, menenangkan yang marah, menyemangati yang putus asa, memuji yang berbuat baik, dan meminta maaf ketika bersalah. Tetapi lidah yang liar dapat menjadi sumber adharma. Ia bisa memfitnah, menghina, memecah persaudaraan, membakar kemarahan, dan meninggalkan luka yang panjang.
Di zaman sekarang, ucapan tidak hanya keluar dari mulut. Ia juga keluar melalui pesan WhatsApp, komentar Facebook, unggahan media sosial, dan tulisan singkat yang kita kirim tanpa berpikir panjang. Dulu kata-kata hanya didengar oleh orang di sekitar kita. Sekarang satu kalimat kasar dapat menyebar ke banyak orang dan melukai lebih luas. Karena itu, ajaran Bhishma semakin penting untuk kita renungkan.
Sebelum berbicara atau menulis, baiklah kita bertanya dalam hati: apakah kata-kata ini benar? Apakah perlu diucapkan? Apakah waktunya tepat? Apakah cara menyampaikannya tidak melukai? Sebab dharma bukan hanya mengatakan yang benar, tetapi juga menyampaikan kebenaran dengan hati yang bersih.
Ingatlah, kata-kata yang sudah keluar sulit ditarik kembali. Luka pada tubuh mungkin sembuh dalam beberapa hari, tetapi luka karena ucapan dapat dibawa seseorang sepanjang hidupnya.
Maka marilah kita menjadikan lidah sebagai pelita, bukan sebagai panah. Menjadikan kata-kata sebagai obat, bukan sebagai racun. Menjadikan ucapan sebagai jalan dharma, bukan sumber adharma.
Renungan:
Hari ini, apakah kata-kata kita lebih banyak menyembuhkan atau menyakiti?