Genah bagyane punika,
boya ring artha mas manik,
nenten ring raja brana,
wantah ring raga padidi.
Yaning sampun yukti uning,
ngrasayang ragane hidup,
hidupe dadi manusa,
sampun bagya kawastanin,
yaning weruh,
katatwan jatma utama.
“Tempat kebahagiaan bukan pada harta, emas, permata maupun kekayaan. Kebahagiaan berada dalam diri sendiri. Ketika seseorang mampu menyadari kehidupannya sebagai manusia, di sanalah kebahagiaan mulai ditemukan.” — Gaguritan Galang Apadhang, Pupuh Sinom.
Om Swastyastu,
Bait ini terasa sangat dekat dengan masyarakat sekarang. Ukuran keberhasilan semakin sering ditentukan oleh apa yang terlihat: rumah, kendaraan, jabatan, penghasilan, penampilan, perjalanan wisata, bahkan jumlah pengikut dan tanda suka di media sosial. Akibatnya, banyak orang terus membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain. Sudah memiliki sesuatu, ingin yang lebih tinggi lagi. Sudah mencapai suatu posisi, muncul sasaran berikutnya. Kebahagiaan seolah selalu berada “di sana”, bukan “di sini”.
Masalah tersebut muncul ketika kekayaan dan pengakuan yang sebenarnya hanyalah sarana berubah menjadi tujuan hidup. Keinginan tidak lagi dikendalikan oleh kebutuhan dan dharma, tetapi oleh gengsi, persaingan, rasa takut tertinggal, dan keinginan memperoleh pengakuan. Dari sinilah dapat tumbuh stres, utang konsumtif, konflik keluarga, ketidakjujuran, keserakahan, bahkan kehilangan makna hidup.
Galang Apadhang menawarkan jalan yang sederhana tetapi mendalam: kembali mengenali diri. Harta tetap perlu dicari, pekerjaan tetap harus dilakukan, tetapi semuanya ditempatkan sebagai sarana menjalankan kehidupan yang benar. Buku ini mengajarkan empat pegangan: terus belajar, rajin berkarya, melaksanakan yajna, dan berbakti. Kekayaan diarahkan untuk manfaat, pengetahuan untuk kebijaksanaan, dan keberhasilan untuk pelayanan.
Dengan demikian, galang apadhang bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan memperoleh kejernihan untuk hidup di dalam dunia tanpa diperbudak olehnya.
Bahagia bukan ketika kita memiliki semuanya, tetapi ketika kita mengetahui apa yang sungguh-sungguh bernilai.
Om Santi, Santi, Santi Om
IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta