Makarya Tan Akarya: Bekerja sebagai Persembahan

Dalam lontar Siwa Sasana, ada bagian yang sangat kuat untuk direnungkan oleh siapa pun yang menjalankan tugas keagamaan, pendidikan, dan kebudayaan:

Dalam lontar Siwa Sasana, ada bagian yang sangat kuat untuk direnungkan oleh siapa pun yang menjalankan tugas keagamaan, pendidikan, dan kebudayaan:

Om Swastyastu,

“…nityaha siranggonga pakaryya yajña puja, japa mangarccaneng bhatara satata, lota mangabyasa sastra mwang amarahana mangaji, magawaya yasa mwang kirtti…”

Artinya: seorang sadhaka hendaknya senantiasa melaksanakan karya suci, yajña, puja, japa, memuja Bhatara, terus membiasakan diri mempelajari sastra dan mengajarkan ilmu, serta membuat karya yang membawa jasa dan kebaikan.

Kutipan ini menjadi suluh bagi jalan makarya tan akarya: bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak terikat oleh keinginan pribadi atas hasilnya. Bukan tidak bekerja, melainkan bekerja sepenuh hati sebagai swadharma. Bukan tanpa tujuan, melainkan menjadikan tujuan itu sebagai persembahan kepada Hyang Widhi.

Usaha alih bahasa lontar adalah salah satu bentuk makarya tan akarya. Pekerjaan ini tidak selesai dalam sehari. Ia meminta ketekunan, kesabaran, kerendahan hati, dan keberanian untuk terus belajar. Setiap lembar lontar menyimpan bahasa lama, istilah Kawi, simbol, ajaran tattwa, usada, etika, sejarah, mantra, dan tuntunan hidup yang tidak selalu mudah dipahami oleh generasi sekarang. Karena itu, mengalihbahasakan lontar bukan sekadar memindahkan kata dari bahasa lama ke bahasa Indonesia, tetapi menjembatani zaman.

Sebagai penyuluh sekaligus pengurus PHDI DKI bidang pendidikan dan kebudayaan, pekerjaan ini dapat dipahami sebagai kewajiban moral. Penyuluhan tidak hanya berlangsung di mimbar dharma wacana, tetapi juga melalui buku, tulisan, kajian, dan usaha membuka kembali pintu pengetahuan leluhur. Ketika generasi muda tidak lagi mampu membaca aksara dan bahasa lama, maka tugas kita adalah membuat jalan agar mereka tetap dapat menerima hikmahnya.

Para pujangga lama telah meninggalkan banyak suluh. Ada ajaran tentang pengendalian diri, kewajiban guru, etika murid, kesucian pikiran, keberanian menghadapi suka-duka, pengobatan tradisional, hingga jalan memahami hidup dan kematian. Ilmu-ilmu itu tidak boleh berhenti sebagai naskah yang tersimpan. Ia perlu dibaca, dipahami, dikritisi dengan bijaksana, lalu diambil sarinya untuk menuntun perjuangan hidup hari ini.

Maka, alih bahasa lontar adalah karya jangka panjang. Mungkin tidak selalu ramai. Mungkin tidak selalu dipuji. Mungkin ada kekurangan yang perlu disempurnakan pada edisi berikutnya. Namun, selama dikerjakan dengan bhakti, ketekunan, dan niat ngayah, karya itu menjadi bagian dari yasa mwang kirtti—kebaikan dan jejak dharma yang dapat diwariskan.

Inilah makna makarya tan akarya: bekerja tanpa kehilangan kesadaran bahwa semua karya pada akhirnya adalah persembahan. Kita menulis, menerjemahkan, menyusun, dan menyebarkan, bukan untuk meninggikan diri, tetapi agar cahaya sastra leluhur tidak padam. Generasi muda perlu diberi jalan untuk membaca warisan pujangga lama, sebab dari sana mereka dapat menemukan pegangan batin, kejernihan pikir, dan keberanian untuk hidup benar di tengah zaman yang terus berubah.

Semoga Hyang Widhi memberi wara Nugraha atas usaha kami ini.

Om Santi, Santi, Santi Om.

IBM Jaya Martha

Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan

PHDI DKI Jakarta

Bagikan artikelWhatsApp