Salah satu ajaran penting yang tercantum di Lontar Dharma Putus adalah Makarya tan Akarya. Untuk menjelaskan pengertian makarya tan akarya ini, mari kita renungkan tembang Dandanggula yang diciptakan oleh Bapak Adi Suripto, Sekretaris Umum PHDI Pusat Perioda 2001 - 2006, dalam bukunya Dharma Kinidung :
Materi Dharma Wacana di Pura Segara, Purnama Sasih Kasa, 29 Juni 2026
Om Swastyastu,
Para pinandita, para pemangku, para penglingsir, semeton sareng sami sane wangiang titiang.
Jroning nampa pepesthen puniki // Wajibira mung nuhoni dharma // Apan wus dadi kodrate // Lelaku jro lumaku// Titi tata tatag ing batin// Nggayuh yuning bebrayan//lahir trusing kalbu// Mula lumaku makarya// Antepira sepi pamrih lahir bathin // Makarya tan akarya
Tembang ini memberi tuntunan halus tentang makarya tan akarya, sebuah konsep penting dalam ajaran Dharma Putus dan Dharma Sunya Kling. Maknanya bukan berhenti bekerja, melainkan bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa dibelenggu pamrih dan keakuan.
“Jroning nampa pepesthen puniki, wajibira mung nuhoni dharma” mengingatkan bahwa di tengah menerima ketentuan hidup, kewajiban utama manusia adalah tetap setia pada dharma. Hidup membawa suka dan duka, berhasil dan gagal, dipuji dan dicela. Namun orang yang memahami dharma tidak mudah goyah, sebab ia sadar bahwa setiap peran dalam hidup adalah bagian dari swadharma.
“Apan wus dadi kodrate, lelaku jro lumaku” menegaskan bahwa manusia memang dilahirkan untuk menjalani laku kehidupan. Kita tidak bisa menghindar dari tugas: sebagai orang tua, anak, guru, pemimpin, pekerja, pelayan umat, atau anggota masyarakat. Yang penting bukan hanya apa yang dikerjakan, tetapi bagaimana batin menjalankannya.
Maka tembang ini menuntun: titi tata tatag ing batin. Dalam bekerja, manusia perlu teliti, tertata, dan teguh batinnya. Tidak tergesa oleh ambisi, tidak runtuh oleh kegagalan, tidak mabuk oleh pujian. Kerja menjadi jalan untuk menata diri.
Tujuan akhirnya adalah nggayuh yuning bebrayan, menghadirkan kebaikan bagi kehidupan bersama. Kerja bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk keluarga, masyarakat, dan jagat. Seperti matahari bersinar tanpa meminta balasan, bulan menerangi tanpa menuntut pujian, angin bertiup tanpa menyebut dirinya berjasa, demikian pula manusia hendaknya bekerja karena dharma.
“Mula lumaku makarya, antepira sepi pamrih lahir bathin” menjadi inti ajaran ini. Bekerjalah dengan mantap, tetapi sepi pamrih lahir batin. Tubuh tetap bergerak, pikiran tetap merancang, tangan tetap berkarya, namun batin tidak melekat pada hasil. Inilah makarya tan akarya: bekerja sebagai persembahan, bukan sebagai alat memperbesar ego.
Dalam Dharma Putus dan Dharma Sunya Kling, ajaran ini menjadi jalan memutus keterikatan. Bukan memutus kewajiban, melainkan memutus rasa “aku yang berjasa”, “aku yang harus dipuji”, “aku yang harus mendapat hasil”. Ketika keakuan itu dilepas, pekerjaan menjadi yajña, dan hidup menjadi lebih hening.
Semoga ajaran makarya tan akarya menuntun kita untuk tetap bekerja, tetap melayani, tetap berbuat baik, namun dengan hati yang tulus, teguh, dan bebas dari pamrih.
Om Santih, Santih, Santih, Om.
IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Penerangan
PHDI DKI Jakarta