Menjelang Mahasabha XIII, perbedaan pandangan mengenai arah PHDI tentu tidak dapat dihindari. Setiap pihak dapat mempunyai pengalaman, keyakinan, dan gagasan yang berbeda. Namun, perbedaan itu sebaiknya tidak membuat kita kehilangan sesuatu yang lebih mendasar: persaudaraan sesama umat Hindu.
Kawinayan sebagai fondasi kesucian
Ada tuntunan yang menarik dalam Sanghyang Siwa Sasana, salah satu buku terbitan PT Kawi Sastra Mandala. Ketika menjelaskan kawinayan, atau etika dan tata krama, buku tersebut menempatkan sopan santun, kelembutan, penghormatan kepada sesama, ucapan yang lembut, dan tindakan yang harmonis sebagai bagian penting dari kehidupan spiritual.
Bahkan ditegaskan: “Kawinayan adalah fondasi kesucian. Tanpa etika, spiritualitas menjadi kosong.”
Kematangan batin di tengah perbedaan
Lebih dalam lagi, Siwa Sasana menggambarkan kematangan batin dengan ungkapan “suddha satya santa”—jujur, suci, dan tenang—serta mengingatkan agar pikiran tidak dikuasai iri, dengki, kebencian, dan niat buruk.
Di dalamnya juga ditekankan ksama atau kesabaran, serta metri-karuna-mudita-upeksa: cinta kasih, empati, kegembiraan atas kebaikan orang lain, dan sikap batin yang bijaksana. Pesan ini terasa sangat relevan bagi kita hari ini.
Berbeda tanpa kehilangan kelembutan
Kita boleh berbeda mengenai struktur PHDI, kepemimpinan, tradisi keagamaan, maupun cara terbaik menjaga Hindu Indonesia. Namun, jangan sampai semangat mempertahankan keyakinan membuat kita kehilangan kelembutan dalam berbicara dan penghormatan kepada saudara sendiri.
Siwa Sasana bahkan mengingatkan bahwa menjalankan Dharma berarti tidak menimbulkan kerusakan batin pada orang lain, menjadi sumber kedamaian, serta menjadi pelindung, bukan ancaman. Inilah yang patut kita bawa memasuki Mahasabha XIII.
Persatuan tidak mengharuskan kita menjadi sama
Persatuan tidak mengharuskan kita menjadi sama. Toleransi juga tidak berarti mengorbankan keyakinan. Persatuan adalah kesediaan untuk tetap duduk bersama ketika berbeda; toleransi adalah kemampuan mempertahankan keyakinan tanpa merasa perlu meniadakan yang lain.
Mahasabha hendaknya menjadi tempat Dharma mempertemukan kita, bukan tempat perbedaan memisahkan kita. Sebab organisasi dapat diperbaiki, AD/ART dapat disempurnakan, dan kepengurusan akan selalu berganti. Namun, persaudaraan yang terluka jauh lebih sulit dipulihkan.
Semoga dalam setiap perdebatan kita tetap ingat pesan sederhana Siwa Sasana: menjadi sumber kedamaian dan menjadi pelindung, bukan ancaman.
Persatuan adalah kesediaan untuk tetap duduk bersama ketika berbeda; toleransi adalah kemampuan mempertahankan keyakinan tanpa merasa perlu meniadakan yang lain.