NGAYAH, BUKAN PROFESI TAPI HARUS PROFESIONAL

Anggota Suka Duka Hindu Dharma Banjar Jakarta Utara terdiri dari berbagai latar belakang profesi. Ada yang bekerja di lembaga pemerintah, sektor swasta, maupun sebagai wirausahawan. Namun…

Anggota Suka Duka Hindu Dharma Banjar Jakarta Utara terdiri dari berbagai latar belakang profesi. Ada yang bekerja di lembaga pemerintah, sektor swasta, maupun sebagai wirausahawan. Namun ketika ngayah, semua perbedaan itu melebur dalam satu tujuan suci: menyukseskan yadnya agar menjadi Sattwika Yadnya.

Om Swastyastu,

Sattwika Yadnya adalah yadnya yang dilaksanakan berdasarkan tuntunan sastra, dilengkapi dengan mantra, kidung suci, daksina, serta dilandasi oleh keyakinan yang tulus. Inilah yadnya yang tidak hanya terlihat indah secara lahir, tetapi juga bermakna secara rohani.

Untuk mencapai kualitas tersebut, ada beberapa syarat utama:

1. Sradha

Yadnya harus dilaksanakan dengan keyakinan penuh. Apa yang diajarkan dalam sastra diyakini sebagai kebenaran. Keyakinan inilah yang memberi makna spiritual pada setiap simbol upakara. Dalam praktiknya, tentu akan ada godaan yang menguji keteguhan ini.

2. Lascarya

Keikhlasan menjadi landasan utama. Yadnya yang dilakukan dengan keraguan tidak akan memberikan hasil yang maksimal secara rohani. Ketulusan adalah kunci utama.

3. Sastra

Yadnya harus berlandaskan aturan suci (Yadnya Widhi). Tanpa dasar sastra, yadnya kehilangan arah dan maknanya.

4. Daksina

Penghormatan kepada pemimpin upacara diwujudkan melalui daksina, baik berupa sarana maupun materi, yang dihaturkan dengan tulus.

5. Mantra dan Gita

Yadnya tidak terlepas dari mantra dan lagu suci. Inilah yang menghidupkan suasana spiritual dan menghubungkan sekala dengan niskala.

6. Annasewa

Keramahtamahan juga bagian dari yadnya. Tidak boleh ada yang lapar di sekitar pelaksanaan upacara. Yadnya harus membawa kesejahteraan bagi semua.

Di sinilah muncul sebuah kesadaran penting:

Ngayah bukanlah profesi, tetapi harus dilakukan secara profesional

Mengapa demikian?

Karena walaupun ngayah bersifat sosial dan tidak berbayar, kualitas pelaksanaannya tetap harus dijaga. Profesional bukan berarti dibayar, tetapi berarti dilakukan dengan tanggung jawab, kesungguhan, dan kompetensi.

Lalu bagaimana caranya?

Krama banjar tidak harus melakukan hal yang sama. Justru keberagaman kemampuan adalah kekuatan. Setiap orang bisa ngayah sesuai bakat dan kemampuannya:

a. Adnyana Yadnya

Ngayah melalui pengetahuan. Mengajar generasi muda membuat banten, caru, atau dharma gita. Inilah cara menjaga kesinambungan budaya.

b. Kriya Yadnya

Ngayah melalui tenaga. Ikut gotong royong, membuat sarana upacara, membantu pekerjaan fisik.

c. Artha Yadnya

Ngayah melalui materi. Memberikan punia, dana, atau bantuan finansial bagi kelancaran yadnya.

d. Yoga Yadnya

Ngayah melalui pikiran dan sikap batin. Mendukung dengan doa, menjaga suasana tetap harmonis, serta menghindari komentar yang melemahkan semangat.

e. Angga Yadnya

Ngayah melalui pengorbanan diri, seperti ikut kegiatan sosial, misalnya donor darah.

Dengan demikian, tidak ada alasan untuk tidak ngayah. Semua orang punya ruang untuk berkontribusi.

Maka mari kita teguhkan bersama:

Ngayah memang bukan profesi, tetapi harus dilaksanakan secara profesional — sesuai bakat, kemampuan, dan ketulusan masing-masing.

Semoga pemahaman ini dapat memperkuat Sradha dan Bhakti kita, sekaligus meningkatkan kualitas yadnya yang kita laksanakan, menuju Sattwika Yadnya yang sejati.

Om Shanti, Shanti, Shanti, Om

IBM Jaya Martha

Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan

PHDI DKI Jakarta

Bagikan artikelWhatsApp