Ngulati Tikeh Mas: Menyiapkan Jalan Pulang

Dalam kehidupan masyarakat Bali dikenal ungkapan ngulati tikeh mas. Secara harfiah, ungkapan ini berarti “mencari tikar emas”. Namun, maknanya bukanlah mencari benda berharga, melainkan…

Dalam kehidupan masyarakat Bali dikenal ungkapan ngulati tikeh mas. Secara harfiah, ungkapan ini berarti “mencari tikar emas”. Namun, maknanya bukanlah mencari benda berharga, melainkan mempersiapkan tempat terakhir yang mulia: jalan pulang ketika tugas kehidupan telah selesai.

Om Swastyastu,

Tikeh atau tikar adalah tempat manusia duduk, beristirahat, berdoa, bahkan merebahkan tubuh. Mas melambangkan kemurnian, kemuliaan, dan nilai yang tidak mudah pudar. Dengan demikian, ngulati tikeh mas dapat dimaknai sebagai usaha mempersiapkan diri agar kelak meninggalkan kehidupan dengan hati bersih, swadharma yang telah ditunaikan, dan hubungan yang harmonis dengan Hyang Widhi, leluhur, keluarga, serta sesama.

Kisah perjalanan Danghyang Dwijendra dalam buku Dwijendra Tattwa terbitan Kawi Sastra Mandala memberikan teladan tentang makna tersebut. Beliau tidak menjalani kehidupan untuk mengumpulkan kemewahan bagi dirinya. Perjalanan beliau adalah perjalanan pengabdian: membimbing umat, menegakkan dharma, menyucikan tempat, membangun kehidupan spiritual, dan meninggalkan warisan yang tetap hidup setelah tubuh jasmani tiada. Buku tersebut menghadirkan perjalanan beliau sebagai teladan keteguhan dharma, kebijaksanaan, dan pengabdian tanpa pamrih.

Dari kisah itu kita belajar bahwa tikeh mas tidak ditemukan secara tiba-tiba menjelang kematian. Ia dianyam sepanjang hidup. Setiap helainya dibentuk dari pikiran yang bersih, ucapan yang menyejukkan, perbuatan yang berguna, kesediaan memaafkan, pelayanan kepada sesama, dan pengetahuan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Harta dapat ditinggalkan. Kedudukan akan berakhir. Tubuh pun perlahan melemah. Namun kebaikan yang pernah ditanam akan tetap tumbuh dalam kehidupan orang lain. Itulah emas yang sesungguhnya.

Karena itu, ngulati tikeh mas bukan ajakan untuk menunggu kematian, melainkan panggilan untuk menjalani kehidupan secara lebih bermakna. Selagi masih memiliki tenaga, berkaryalah. Selagi masih memiliki pengetahuan, bagikanlah. Selagi masih ada kesempatan, perbaikilah hubungan dan tunaikanlah kewajiban.

Seperti perjalanan Danghyang Dwijendra, kehidupan yang dipenuhi pengabdian akan meninggalkan jejak dharma. Ketika saat pulang tiba, seseorang tidak hanya membawa doa, tetapi juga warisan kebajikan yang telah dipersembahkan selama hidupnya.

Demikian renungan hari ini, semoga bermanfaat.

Om Santi, Santi, Santi Om

IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta

Bagikan artikelWhatsApp