Post Truth

Nggugu karsaning priyangga,Nora nganggo peparah lamun angling,Lumuh ingaran balilu,Uger guru aleman,Nanging jamna ingkang wus waspadeng semu,Sinamun ing samudana,Sesadon ingadu manis.

Nggugu karsaning priyangga,Nora nganggo peparah lamun angling,Lumuh ingaran balilu,Uger guru aleman,Nanging jamna ingkang wus waspadeng semu,Sinamun ing samudana,Sesadon ingadu manis.

(Pangkur Serat Wedhatama)

Om Swastyastu,

Tembang ini jika dialihbahasakan secara sederhana mengandung peringatan yang sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini:

Mengikuti kehendak diri sendiri, berbicara tanpa dasar yang jelas, malas berpikir hingga mudah tersesat, aturan kebenaran dilunakkan karena rasa suka atau kepentingan. Padahal zaman sekarang penuh dengan kepalsuan, segala sesuatu dibungkus rapi dalam kemasan, dan dibuat seolah-olah manis dan benar.

Kalau kita renungkan, ini sangat dekat dengan fenomena yang sedang ramai, misalnya polemik tuduhan ijazah palsu terhadap Joko Widodo.

Banyak orang langsung mengambil posisi, percaya atau menolak, bukan karena sudah memeriksa fakta, tetapi karena sudah punya kecenderungan sejak awal. Informasi yang belum jelas asalnya dibagikan begitu saja. Potongan gambar, cerita yang belum tentu utuh, langsung dijadikan dasar kesimpulan.

Di sinilah tembang tadi seperti menegur kita.“Nora nganggo peparah lamun angling” — berbicara tanpa ukuran yang benar.“Lumuh ingaran balilu” — malas mencari tahu, akhirnya mudah terseret arus.

Padahal di zaman sekarang, “jamna ingkang wus waspadeng semu”, kita hidup di era di mana banyak hal tidak selalu seperti yang terlihat. Informasi bisa dikemas, dipoles, bahkan diarahkan untuk menggiring opini. Apa yang tampak manis belum tentu benar, “sesadon ingadu manis”.

Bukan berarti kita harus langsung percaya atau langsung menolak suatu isu. Tetapi yang diajarkan di sini adalah sikap: jangan tergesa-gesa, jangan hanya mengikuti perasaan atau kelompok, dan jangan malas mencari kebenaran.

Karena yang berbahaya bukan hanya kabar yang salah, tetapi kebiasaan kita yang mudah percaya tanpa berpikir.

Semoga kita bisa lebih waspada, lebih jernih, dan tidak mudah terombang-ambing oleh “samudana” zaman ini.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

IBM Jaya Martha

Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan

PHDI DKI Jakarta

Bagikan artikelWhatsApp