(Ketika dunia terlepas dari dharma, tatanan kehidupan kehilangan arah. Berbagai penyakit dan bencana muncul tanpa batas, karena kehidupan yang seharusnya suci tercemar oleh adharma.)
Refleksi: Nangluk Merana Era Digital
“Yan bhuwana kaluputan ring dharma, tataning jagat kadi tan panemu marga, rogha sanggara tumuwuh tan kena winates, amreta urip kadi sirna dening adharma.”
Cuplikan Sloka – Lontar Rogha Sanggara Bumi
Om Swastyastu,
Dalam pemahaman tradisional, upacara Nangluk Merana sering dimaknai sebagai usaha menolak hama—wereng, tikus, atau gangguan alam yang merusak hasil pertanian. Namun, jika kita renungkan lebih dalam, sebagaimana tersirat dalam ajaran Rogha Sanggara Bumi, sumber penderitaan tidak semata datang dari alam, melainkan dari perilaku manusia yang menyimpang dari dharma.
Di zaman ini, “hama” yang kita hadapi justru jauh lebih halus, tetapi dampaknya lebih luas dan merusak sendi kehidupan masyarakat.
Pertama, politik tanpa prinsip
Ketika kekuasaan tidak lagi berlandaskan dharma, maka lahirlah ketidakadilan. Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan penyakit moral yang menggerogoti kepercayaan rakyat. Ini adalah bentuk rogha (penyakit) sosial yang nyata.
Kedua, bisnis tanpa moralitas
Keuntungan yang diperoleh tanpa etika adalah benih penderitaan. Eksploitasi manusia dan alam menunjukkan bahwa kekayaan yang tidak selaras dengan dharma justru membawa sanggara—kehancuran yang perlahan namun pasti.
Ketiga, pengetahuan tanpa karakter
Di era digital, informasi menyebar begitu cepat. Namun tanpa tanggung jawab, pengetahuan berubah menjadi senjata yang menyesatkan. Hoaks dan fitnah menjadi “hama pikiran” yang merusak keharmonisan masyarakat.
Keempat, sains tanpa kemanusiaan
Kemajuan teknologi seharusnya memuliakan kehidupan, bukan mengancamnya. Ketika sains kehilangan nilai kemanusiaan, ia menjadi dingin, bahkan berpotensi menghancurkan martabat manusia itu sendiri.
Kelima, kekayaan tanpa kerja
Kemakmuran sejati lahir dari usaha yang jujur. Ketika kekayaan diperoleh tanpa kerja yang layak, atau melalui cara-cara tidak etis, maka keseimbangan sosial terganggu. Ini adalah bentuk ketidakadilan yang halus namun berbahaya.
Keenam, kenikmatan tanpa nurani
Gaya hidup berlebihan tanpa kesadaran akan dampaknya terhadap lingkungan dan sesama adalah bentuk kelalaian. Alam rusak, hubungan sosial renggang—semua berakar dari hilangnya rasa cukup dan kesadaran diri.
Ketujuh, kepercayaan tanpa pengorbanan
Agama sejatinya menuntun pada kasih dan pengendalian diri. Namun ketika dipraktikkan tanpa pengorbanan dan ketulusan, ia berubah menjadi simbol kosong, bahkan dapat melahirkan intoleransi.
Makna Nangluk Merana dalam Kehidupan Modern
Upacara Nangluk Merana sejatinya bukan hanya ritual untuk mengusir hama secara fisik, melainkan simbol pemurnian. Ia mengajarkan bahwa keseimbangan harus dijaga pada tiga ranah:
-Palemahan (alam)
-Pawongan (sesama manusia)
-Parahyangan (hubungan dengan Hyang Widhi)
Dalam konteks masyarakat modern, terutama di lingkungan Banjar Jakarta Utara, upacara ini menjadi momentum refleksi bersama. Bahwa yang harus kita “tangkal” bukan hanya gangguan luar, tetapi juga sifat-sifat dalam diri yang menjauhkan kita dari dharma.
Setiap individu memiliki peran. Seorang pemimpin menjaga integritasnya. Pelaku usaha menjaga etika. Pendidik menanamkan karakter. Umat beragama menghidupkan nilai, bukan sekadar simbol.
Harapan dan Doa
Semoga melalui pelaksanaan Upacara Nangluk Merana di Pura Segara Cilincing, kita semua memperoleh wara nugraha dari Hyang Widhi.
Semoga dijauhkan dari:
-pikiran yang menyimpang dari kebenaran,
-tindakan yang melukai sesama,
-serta sikap yang merusak keharmonisan alam dan kehidupan.
Semoga “hama-hama” sosial yang halus namun berbahaya itu lenyap dari tengah masyarakat.
Dan semoga kita semua senantiasa kembali pada dharma— sebagai jalan menuju kehidupan yang adil, beretika, dan harmonis.
Om Shanti, Shanti, Shanti Om
IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta