Banyak dosa timbul karena kelalaian. Sebaliknya, banyak kebajikan lahir dari ketegasan dan disiplin. Karena itu, anak dan sisya harus dibina dengan tegas dan bijaksana.
PEMIMPIN WAJIB MENGAWASI BAWAHANNYA
“Lalanad bahawo dosah, tadanad bahawo gunah, tasmat putresu sisiesu, tadanang kurute wudah.” — Lontar Bratisasana, 16a, hlm. 60–61.
Lontar Bratisasana, yang dikenal sebagai salah satu lontar karya Danghyang Nirartha, memberi tuntunan mendalam tentang etika, pengendalian diri, dan tanggung jawab moral seorang pemimpin rohani. Ajaran ini juga dapat menjadi cermin bagi kepemimpinan masyarakat.
Seorang pemimpin tidak cukup hanya baik secara pribadi. Ia juga wajib mengawasi bawahannya agar tidak menyimpang, tidak menipu rakyat, tidak mempermainkan aturan, dan tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi.
Bawahan yang culas terhadap rakyat akan merusak nama lembaga dan mencederai kepercayaan masyarakat. Tetapi pemimpin yang membiarkan kecurangan itu juga ikut menanggung tanggung jawab moral. Sebab kelalaian mengawasi dapat berubah menjadi pembiaran.
Bratisasana mengingatkan bahwa kasih atau toleransi yang berlebihan tanpa disiplin justru melahirkan kerusakan. Dalam pemerintahan, pemimpin yang membiarkan anak buahnya bermain-main dengan hak rakyat akan menciptakan penderitaan bagi masyarakat.
Karena itu, pemimpin sejati harus berani mengawasi, memberi teguran, dan mengambil tindakan terhadap bawahan yang curang. Ketegasan bukan kebencian. Ketegasan adalah bagian dari dharma untuk melindungi rakyat.
Pemimpin yang baik tidak hanya membuat kebijakan, tetapi memastikan kebijakan itu tidak disalahgunakan oleh orang-orang di bawahnya.
Semoga renungan ini bermanfaat.
Om Shanti, Shanti, Shanti Om
IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta