Renungan Hari Ini: Tragedi Gugurnya Sang Guru Drona

Dalam kisah Mahabharata, momen gugurnya Resi Drona di medan Kurukshetra (Drona Vadha Parva) adalah salah satu bagian yang paling menguras emosi dan penuh perdebatan moral.

Dalam kisah Mahabharata, momen gugurnya Resi Drona di medan Kurukshetra (Drona Vadha Parva) adalah salah satu bagian yang paling menguras emosi dan penuh perdebatan moral.

Om Swastyastu,

Drona bukanlah lawan yang sembarangan. Sebagai guru besar bagi Pandawa maupun Korawa, ia hampir tak terkalahkan. Kesaktiannya membuat barisan Pandawa gentar. Namun, sehebat apa pun seorang pejuang, ia tetaplah manusia yang memiliki titik lemah. Dan bagi Drona, titik lemah itu adalah kasih sayang yang berlebihan kepada putranya, Ashwatthama.

Melihat Drona yang mustahil dikalahkan dengan senjata, Krishna pun menyusun sebuah siasat "psikologis". Sebuah kabar ditiupkan di tengah kecamuk perang: "Ashwatthama mati!"

Drona yang terguncang segera mengonfirmasi kabar itu kepada Yudhistira, sosok yang dikenal tidak pernah berbohong. Yudhistira menjawab dengan kalimat yang sangat tipis antara kejujuran dan muslihat: "Ashwatthama mati... (tapi yang mati adalah gajah bernama Ashwatthama)." Sayangnya, suara sangkakala yang memekakkan telinga menenggelamkan penjelasan terakhir itu.

Mendengar separuh kebenaran tersebut, semangat hidup Drona runtuh seketika. Ia meletakkan senjatanya, duduk bermeditasi di atas keretanya, dan bersiap melepaskan jiwanya. Di saat itulah, Dhrishtadyumna datang dan mengakhiri hidup sang guru.

Apa yang bisa kita petik dari kisah ini?

-Kebenaran yang Terpotong: Kisah ini mengingatkan kita bahwa informasi yang disampaikan hanya separuh atau "setengah benar" bisa lebih berbahaya daripada kebohongan utuh.

-Keterikatan Emosional: Drona gugur bukan karena kurang sakti, tapi karena keterikatannya yang terlalu dalam pada duniawi (anaknya). Hal ini mengaburkan kebijaksanaannya di saat kritis.

-Dilema Etika: Kadang dalam perjuangan menegakkan kebenaran (Dharma), ada harga mahal berupa integritas yang harus dikorbankan, seperti yang dirasakan Yudhistira.

Sebuah pengingat bagi kita semua untuk selalu jernih dalam melihat informasi dan bijak dalam mengelola keterikatan hati.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

Kelapa Gading, Maret 2026
IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan & Budaya
PHDI DKI Jakarta

Bagikan artikelWhatsApp