Renungan : Kusuma Dewa

Dalam pembukaan Lontar Kusuma Dewa, kita langsung diingatkan bahwa jalan seorang pemangku bukan sekadar menjalankan ritual, melainkan menjaga kesucian diri, pikiran, dan tindakan. Ia adalah…

Dalam pembukaan Lontar Kusuma Dewa, kita langsung diingatkan bahwa jalan seorang pemangku bukan sekadar menjalankan ritual, melainkan menjaga kesucian diri, pikiran, dan tindakan. Ia adalah penjaga jembatan antara manusia dan Ida Sang Hyang Widhi.

“Om Awignamastu nama sidham…”
— semoga tidak ada rintangan, dan segala yang dilaksanakan mencapai kesempurnaan suci.

Sloka berikut menegaskan inti kekuatan spiritual:

“Bayu–Sabda–Idep”
— tenaga, suara, dan pikiran harus bersatu.

Di sinilah letak rahasia mantra. Bukan pada bunyinya semata, tetapi pada keselarasan tiga unsur dalam diri. Ketika bayu (prana), sabda (ucapan), dan idep (kesadaran) menyatu, maka setiap mantra menjadi hidup—bukan sekadar kata, melainkan getaran yang mampu menyucikan.

Kemudian, dalam proses pemujaan:

“Om ring Purwa, Om ring Pascima, Om ring Daksina, Om ring Utara, Om ring Madya…”
— memuja seluruh penjuru alam.

Maknanya jelas: sebelum memanggil yang suci, manusia harus menyelaraskan dirinya dengan semesta. Timur, Barat, Selatan, Utara, atas, bawah—semuanya adalah bagian dari diri. Ritual bukan sekadar kegiatan di satu titik, tetapi penyatuan antara bhuana alit (diri) dan bhuana agung (alam).

Puncaknya, ketika asap dupa dipersembahkan:

“Asep menyan majagawu… terus ring akasa lan pathala.”
— asap dupa naik ke langit dan turun ke dasar bumi.

Ini bukan sekadar simbol. Asap adalah jalan antara dunia nyata dan niskala. Ia membawa doa, membawa niat, membawa kesadaran manusia menuju alam para dewa.

Makna yang Bisa Kita Renungkan

Lontar Kusuma Dewa mengajarkan bahwa:

Kesucian tidak dimulai dari luar, tetapi dari dalam. Sebelum menyucikan tempat, kita harus menyucikan pikiran.

Mantra tanpa kesadaran adalah kosong. Tetapi mantra dengan keselarasan bayu–sabda–idep adalah kekuatan.

Ritual adalah penyelarasan dengan alam semesta. Bukan sekadar tradisi, tetapi ilmu tentang keseimbangan hidup.

Setiap manusia memiliki potensi menjadi “pamangku” bagi dirinya sendiri. Menjaga pikiran, ucapan, dan tindakan agar tetap lurus dalam dharma.

Pada akhirnya, ajaran ini bukan hanya untuk mereka yang memimpin upacara. Tetapi untuk siapa saja yang ingin hidup dengan lebih sadar.

Karena sesungguhnya, setiap hari kita juga sedang “bermantra” — melalui apa yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan.

Om Shanti Shanti Shanti Om

IBM Jaya Martha
Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta

Bagikan artikelWhatsApp