RENUNGAN: LONTAR DHARMA PUTUS

Salah satu ajaran dalam Lontar Dharma Putus karya Danghyang Nirartha menekankan pentingnya melepaskan keterikatan terhadap hasil pekerjaan. Inti ajarannya sejalan dengan semangat niskama…

Salah satu ajaran dalam Lontar Dharma Putus karya Danghyang Nirartha menekankan pentingnya melepaskan keterikatan terhadap hasil pekerjaan. Inti ajarannya sejalan dengan semangat niskama karma — bekerja sebagai bentuk dharma, bukan semata-mata demi pujian, keuntungan, atau pengakuan.

RENUNGAN: LONTAR DHARMA PUTUS
Hasil Kerja Sebagai Bentuk Yadnya

Om Swastyastu,

Cuplikan yang relevan dapat dirangkum dalam ajaran berikut:

“Yan hana mangguh karya, haywa sira tanem ring phala.
Karya ikang dadi yajña, phalanira wenang pinaraning Hyang.”

Alih bahasa:

“Bila seseorang melaksanakan pekerjaan, janganlah hatinya melekat pada hasilnya.
Jadikan pekerjaan itu sebagai yajna (persembahan suci), sedangkan hasilnya biarlah menjadi wewenang Hyang Widhi.”

Dalam proses menyusun buku, ajaran ini sangat dalam maknanya. Ketika pikiran terus dibebani pertanyaan:

“Apakah buku ini akan laku?”
“Apakah orang akan memuji?”
“Apakah biaya akan kembali?”
“Apakah karya ini dianggap penting?”

maka tenaga batin perlahan habis. Pikiran menjadi berat, kerja terasa melelahkan, bahkan inspirasi bisa tertutup oleh kecemasan terhadap hasil.

Namun ketika pekerjaan dilakukan sebagai swadharma dan persembahan, maka proses menulis berubah menjadi jalan spiritual. Kita fokus pada ketekunan menyusun kalimat demi kalimat, memeriksa naskah, menerjemahkan dengan hati-hati, memperbaiki makna, dan menjaga warisan sastra agar tetap hidup.

Hasilnya tidak lagi menjadi beban.

Yang utama adalah:

-bekerja dengan tulus,

-menjaga kualitas,

-tetap disiplin,

-dan menyerahkan buah karya kepada Hyang Widhi.

Sebagaimana petani menanam padi dengan tekun tetapi tidak dapat memaksa hujan turun, demikian pula penulis. Tugas manusia adalah menanam dan merawat karya sebaik-baiknya. Tentang sejauh mana karya itu diterima masyarakat, memberi manfaat, atau menemukan jalannya sendiri — itu adalah wilayah kehendak Hyang Widhi.

Ajaran seperti inilah yang membuat seorang pengayah sastra mampu bekerja panjang tanpa cepat lelah, sebab yang dinikmati bukan hanya hasil akhirnya, melainkan dharma dalam prosesnya sendiri.

Om Shanti, Shanti, Shanti, Om

IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta

Bagikan artikelWhatsApp