Mingkar-mingkuring angkara, akarana karenan mardi siwi, sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta, mrih kretarta pakartining ilmu luhung, kang tumrap ing Nusantara, agama ageming aji.
[Pangkur, Serat Wedhatama]
Om Swastyastu,
Petikan tembang ini sangat halus, namun sesungguhnya menyimpan kegelisahan universal setiap orang tua: antara keinginan membentuk anak sesuai harapan, dengan kesadaran bahwa setiap jiwa lahir membawa jalannya sendiri.
Kalimat pembuka:
Mingkar-mingkuring angkara
dapat dimaknai bukan hanya menjauhi sifat angkara murka, tetapi juga mengekang “keakuan” orang tua. Kadang tanpa sadar, cinta berubah menjadi ambisi. Orang tua ingin anak menjadi versi ideal menurut ukuran dirinya sendiri. Padahal anak bukan bayangan orang tua, melainkan jiwa yang memiliki swabhawa—watak, kecenderungan, dan panggilan hidup masing-masing.
Lalu muncul bait:
akarana karenan mardi siwi
yang menggambarkan usaha mendidik anak dengan penuh kesungguhan. “Mardi siwi” bukan sekadar membesarkan secara fisik, melainkan membina batin, rasa, dan cara berpikir. Pendidikan dalam pandangan Nusantara bukan hanya transfer ilmu, tetapi pewarisan nilai kehidupan.
Karena itulah nasihat tidak diberikan dengan kekerasan, melainkan:
sinawung resmining kidung
dibungkus dalam keindahan kidung, sastra, cerita, simbol, dan kelembutan budaya. Leluhur Nusantara memahami bahwa hati manusia lebih mudah disentuh melalui rasa daripada paksaan. Maka lahirlah geguritan, tembang, pewayangan, petuah, dan cerita-cerita yang indah, agar ajaran dapat meresap tanpa terasa menggurui.
Kemudian diperjelas lagi:
sinuba sinukarta
kata-kata dirangkai dengan tertata dan dipikirkan matang. Ini menunjukkan bahwa mendidik anak memerlukan kebijaksanaan dalam memilih bahasa. Sebab kata-kata orang tua sering tinggal sangat lama dalam batin seorang anak—bisa menjadi cahaya, bisa pula menjadi luka.
Tujuan akhirnya sangat luhur:
mrih kretarta pakartining ilmu luhung
agar ilmu yang tinggi benar-benar memberi kemanfaatan dan kemuliaan hidup. Bukan ilmu untuk kesombongan, melainkan ilmu yang membentuk budi pekerti.
Dan semua itu berpijak pada warisan besar Nusantara:
kang tumrap ing Nusantara, agama ageming aji
bahwa agama dan budaya bukan sekadar identitas luar, tetapi pegangan hidup yang memberi arah. “Agama” di sini bukan hanya ritual, melainkan nilai-nilai dharma: hormat, welas asih, pengendalian diri, dan kesadaran akan hubungan manusia dengan alam serta leluhur.
Pada akhirnya, tembang ini seperti suara hati seorang tua yang sadar bahwa dirinya tidak mampu menentukan takdir anak-anaknya. Yang dapat dilakukan hanyalah menanam benih kebijaksanaan dengan kasih sayang, lalu membiarkan waktu dan kehidupan menumbuhkannya dengan caranya sendiri.
Demikian renungan sebagai orang tua pagi ini, semoga bermanfaat untk membentuk keluarga Hindu yang sejahtera.
Om Shanti, Shanti, Shanti Om
IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan & Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta