RENUNGAN : MERAWAT ALAM ADALAH BAGIAN DARI DHARMA

Terjemahan bebas: “Sanghyang Sukma memenuhi seluruh alam semesta. Segala besar-kecil, baik-buruk, semuanya berada dalam lingkup-Nya. Walaupun tampak beraneka ragam, sesungguhnya berasal…

Terjemahan bebas:
“Sanghyang Sukma memenuhi seluruh alam semesta. Segala besar-kecil, baik-buruk, semuanya berada dalam lingkup-Nya. Walaupun tampak beraneka ragam, sesungguhnya berasal dari sumber yang satu.”

“Ya ta padhanira Sanghyang Suksma ya hamenui rat,
sahana hala hayu mwang lit gong sarwwa kahlekan,
tahata sira tan akweh mawak tunggal ampusi,
wyaparanira ya lumra ring sarwwangga sira wibhuh.”
— Dharma Putus, 27a

Om Swastyastu,

Pada hari suci Tumpek Wariga, kita datang membawa canang, sesajen, dan doa ke hadapan pepohonan serta tumbuh-tumbuhan. Namun sesungguhnya, makna terdalam Tumpek Wariga bukan sekadar upacara memberi persembahan kepada pohon, melainkan mengingatkan manusia bahwa kehidupan ini saling terhubung.

Lontar Dharma Putus mengajarkan bahwa Sanghyang Sukma memenuhi seluruh alam. Artinya, kehidupan suci tidak hanya ada di pura, tetapi juga hadir dalam:

-pohon yang memberi oksigen,
-air yang menghidupi sawah,
-tanah tempat tumbuhnya pangan,
-dan alam yang menopang kehidupan manusia.

Karena itu leluhur Bali tidak memandang alam sebagai benda mati. Pohon bukan hanya kayu. Air bukan hanya benda cair. Semua dipandang sebagai bagian dari kehidupan suci yang harus dihormati.

Hari ini manusia modern sering lupa. Hutan ditebang tanpa batas, sungai dikotori, tanah dirusak, sementara manusia terus mengejar keuntungan tanpa memikirkan keseimbangan alam. Akibatnya muncul:

-panas yang semakin ekstrem,
-banjir,
-kekeringan,
-serta berbagai ketidakseimbangan kehidupan.

Tumpek Wariga mengingatkan kembali:
kalau alam rusak, manusia juga akan kehilangan sumber kehidupannya.

Sebagai pengempon Pura Dalem Purna Jati, persembahyangan hari ini bukan hanya ritual, tetapi juga janji moral:

-menjaga pohon,
-menjaga kebersihan lingkungan,
-tidak serakah terhadap alam,
-dan mengajarkan generasi muda untuk menghormati kehidupan.

Karena sesungguhnya, merawat alam juga adalah bagian dari Dharma.

Semoga melalui Tumpek Wariga ini, hati kita semakin halus, pikiran semakin sadar, dan kehidupan semakin harmonis antara manusia, alam, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Om Shanti Shanti Shanti Om.

IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidan Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta

Catatan :
Bahan untuk disampaikan saat Dharma Wacana persembahyangan Tumpek Wariga di Pura Dalem Purnajati Cilincing Jakarta Utara, 23 Mei 2026

Bagikan artikelWhatsApp