RENUNGAN : SANGHYANG SIWASASANA

Dalam Sanghyang Siwa Sasana, seorang rohaniwan tidak cukup hanya berpakaian putih, duduk di depan pelinggih, atau dihormati umat. Seorang acarya, pandita, maupun pinandita diwajibkan untuk…

Dalam Sanghyang Siwa Sasana, seorang rohaniwan tidak cukup hanya berpakaian putih, duduk di depan pelinggih, atau dihormati umat. Seorang acarya, pandita, maupun pinandita diwajibkan untuk terus belajar, memahami sastra, dan memperdalam pengetahuan dharma.

“Acarya wedha paraga,
wruh ring hangga pangupangga Sanghyang Catur Wedha,
wruh ring kaswadhayan Sanghyang Sruti Smrti,
acarya stiti, gumawé dharmma sastra.”
“Seorang acarya harus menguasai Weda,
memahami bagian-bagian dan cabang-cabang Sanghyang Catur Weda,
memahami ajaran Sruti dan Smrti,
mantap dalam pengetahuan, dan mampu mengajarkan sastra dharma.”

[Lontar Sanghyang Siwasasana]

Om Swastyastu,

Lontar ini bahkan menegaskan bahwa guru rohani yang minim pengetahuan disebut sadhaka mudha —rohaniwan yang belum matang. Karena itu, seorang pemuka agama tidak boleh berhenti belajar. Ia harus memahami Weda, Sruti, Smrti, tattwa, hingga etika hidup. Bukan untuk kebanggaan pribadi, tetapi agar tidak menyesatkan umat.

Di zaman sekarang, pesan ini sangat relevan. Umat tidak hanya bertanya tentang upacara, tetapi juga tentang kehidupan, moral, pendidikan anak, media sosial, bahkan konflik sosial dan spiritual modern. Bila pemuka agama tidak mau belajar dan memperluas wawasan, maka ajaran agama bisa menjadi sempit, kaku, bahkan kehilangan arah.

Belajar bukan menurunkan kewibawaan seorang sulinggih. Justru kerendahan hati untuk terus belajar adalah tanda kedewasaan spiritual. Karena dalam dharma, berhenti belajar berarti mulai tertinggal oleh zaman, sementara tugas seorang rohaniwan adalah menjadi penerang, bukan sekadar simbol penghormatan.

🌿 Ilmu menjaga kejernihan. Kebijaksanaan menjaga dharma.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta

Bagikan artikelWhatsApp