Renungan : Siwa Sasana

Sejak awal, lontar ini tidak berbicara tentang ritual semata, tetapi tentang tanggung jawab moral. Menjadi seorang pemangku, pinandita, atau guru rohani bukanlah sekadar posisi, melainkan…

Sejak awal, lontar ini tidak berbicara tentang ritual semata, tetapi tentang tanggung jawab moral. Menjadi seorang pemangku, pinandita, atau guru rohani bukanlah sekadar posisi, melainkan amanah yang harus dijaga dengan penuh kesadaran.

Renungan : Alih Bahasa Lontar Siwa Sasana

Om Swastyastu,

“Nihan sanghyang Siwa Sasana kayatnakna… de sang watek sadhaka makabehan…”
— inilah ajaran suci Siwa Sasana yang harus dijaga oleh seluruh sadhaka dan pemuka rohani.

Lontar kemudian menegaskan:

“…kumayatnakna mrihakmitana sanghyang agama Siwa Sasana… maka don karaksaning kabhujangganira…” — hendaknya ajaran ini dijaga dengan sungguh-sungguh demi keluhuran martabat dan perilaku.

Di sini, “kabhujangganira” berarti martabat diri. Artinya, kesucian seorang rohaniwan tidak diukur dari pakaian atau upacara yang dipimpinnya, tetapi dari bagaimana ia menjaga kehormatan dirinya dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh lagi, Siwa Sasana memberikan fondasi etika yang sangat jelas:

“Kayika wacikascewa, manasikas tratiyaka…” — perbuatan, ucapan, dan pikiran adalah tiga hal utama yang harus dijaga.

Inilah konsep Trikaya Paramartha. Seseorang tidak bisa disebut suci jika hanya tampak baik di luar, tetapi di dalam dipenuhi amarah, iri, atau niat buruk.

Kesucian sejati adalah keselarasan: tubuh tidak menyakiti, ucapan tidak melukai, pikiran tidak mengotori

Lontar bahkan memberi peringatan keras:

“…alpa sastra, dusprajña, kurang wiweka…”
— mereka yang kurang pengetahuan, kurang kebijaksanaan, dan tidak mampu membedakan benar-salah, tidak layak menjadi guru.

Ini adalah pesan yang sangat relevan hari ini.
-Tidak semua yang terlihat religius benar-benar memahami dharma.
-Tidak semua yang fasih berbicara layak membimbing.

Dan yang paling tegas, Siwa Sasana menyatakan:

“…ambeknya mada moha… irsya matsara…”
— guru yang dikuasai nafsu, kebingungan, iri, dan dengki adalah guru yang mencemari ajaran.

Di sinilah garis batas ditarik dengan sangat jelas. Spiritualitas tanpa pengendalian diri bukanlah jalan menuju kesucian, melainkan pintu menuju kehancuran.

Makna yang Bisa Kita Renungkan

Dari sloka-sloka ini, ada beberapa inti ajaran yang sangat kuat:

-Menjadi rohaniwan adalah tanggung jawab, bukan kebanggaan.

-Kesucian dimulai dari pengendalian diri, bukan dari ritual.

-Guru sejati adalah yang hidup dalam dharma, bukan sekadar mengajarkannya.

-Trikaya (pikiran, ucapan, perbuatan) adalah cermin sejati spiritualitas.

-Tanpa etika, semua praktik keagamaan kehilangan makna.

Pada akhirnya, Siwa Sasana tidak hanya berbicara kepada pemangku atau guru.
Ia berbicara kepada kita semua.

Karena dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia juga sedang menjalankan “Siwa Sasana”-nya sendiri.

Melalui cara berpikir, berbicara, dan bertindak.

Semoga bermanfaat, dan mohon maaf jika ada kesalahan atau kekurangan.

Om Shanti Shanti Shanti Om

IBM Jaya Martha
Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta

Bagikan artikelWhatsApp