Tumpek Wariga sering dipahami sekadar tradisi memberi sesajen pada pohon. Padahal bila dicermati lebih dalam, lontar Sundarigama memperlihatkan bahwa leluhur Bali sesungguhnya telah memiliki kesadaran ekologis yang sangat maju.
“Wariga Saniscara Kliwon ngaran panguduh puja wali Sang Hyang Sangkara, apan sira amretaken sarwaning tumuwuh, kayu-kayu kunang widhi widhanya…Kalinganya anguduh ikang awoh mwang godong dadya pamrtaning hurip ring manusa…”— Lontar Sundarigama
“Pada Wariga Saniscara Kliwon dilaksanakan pemujaan kepada Sang Hyang Sangkara, sebab Beliaulah yang menumbuhkan seluruh tumbuh-tumbuhan dan pepohonan. Maknanya agar buah-buahan dan dedaunan menjadi sumber kehidupan bagi manusia.”
Om Swastyastu,
Tumbuhan tidak dipandang sebagai benda mati. Pohon dianggap memiliki peran suci sebagai penyangga kehidupan. Buah, daun, kayu, air, dan kesuburan tanah dipahami sebagai “pamrtaning hurip” — sumber kehidupan manusia.
Karena itu hubungan manusia dengan alam tidak dibangun melalui eksploitasi, melainkan penghormatan.
Tumpek Wariga mengajarkan bahwa manusia wajib:
-menjaga pohon,
-menghormati hutan,
-merawat tanah,
-dan memahami bahwa alam adalah bagian dari kehidupan spiritual.
Dalam tradisi Bali kuno, menebang pohon sembarangan bukan sekadar merusak lingkungan, tetapi juga dianggap merusak keseimbangan bhuwana. Ajaran ini terasa sangat relevan pada masa sekarang.
Di tengah:
-kerusakan hutan,
-perubahan iklim,
-banjir,
-longsor,
-sampah,
-dan krisis air,
manusia modern mulai menyadari bahwa alam bukan objek yang bisa dieksploitasi tanpa batas.
Apa yang diajarkan Tumpek Wariga sesungguhnya adalah kesadaran ekologis spiritual: bahwa alam harus dirawat karena manusia hidup bersama alam, bukan di atas alam. Menariknya, dalam Tumpek Wariga masyarakat tidak hanya “berdoa”, tetapi juga membangun hubungan emosional dengan tumbuhan.
Pohon diberi janur,
diberi sesajen,
bahkan diajak “berbicara”.
Bagi sebagian orang modern hal ini mungkin terlihat simbolis, namun secara psikologis budaya ini membangun rasa hormat terhadap alam sejak kecil.
Anak-anak yang tumbuh dalam budaya seperti ini akan belajar:
bahwa pohon bukan benda mati,
bahwa alam memiliki nilai suci,
dan bahwa kehidupan manusia bergantung pada keseimbangan lingkungan.
Di sinilah keagungan ajaran Nusantara.
Jauh sebelum istilah:
“green living,”
“ecological awareness,”
atau
“sustainability”
menjadi pembahasan dunia modern,
leluhur Bali melalui Sundarigama sudah menanamkan filosofi:
merawat alam adalah bagian dari Dharma.
Semoga bermanfaat, jika ada kekeliruan mohon dapat dimaafkan.
Om Shanti, Shanti, Shanti Om
IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta