(Ketika hutan rusak dan tidak lagi menjadi penyangga kehidupan dunia, air kehilangan jalurnya, bumi menjadi kacau, berbagai penderitaan dan bencana tumbuh tanpa batas, manusia pun kehilangan arah hidupnya.)
“Yan wana rusak tan pinaka urip jagat, toya hana ngalantur, bumi kacampahan, roga sanggara tumuwuh tan pawates, janma bingung ring marganing urip.”
Om Swastyastu,
Walaupun redaksi di atas merupakan elaborasi pemaknaan modern terhadap spirit Lontar Rogha Sanggara Bumi, namun sangat relevan untuk membaca situasi Bali hari ini. Dalam lontar tersebut, penderitaan (rogha) dan kekacauan (sanggara) tidak hanya dimaknai sebagai penyakit fisik, tetapi juga kerusakan tatanan alam dan moral manusia.
Hari ini kita menyaksikan:
-hutan di kawasan hulu Bali semakin terdesak,
-daerah resapan berubah menjadi beton,
-sungai dipenuhi sampah,
-mangrove rusak,
-banjir datang lebih cepat,
-longsor makin sering,
-dan air bersih mulai sulit ditemukan di beberapa wilayah.
Dalam sudut pandang Lontar Rogha Sanggara Bumi, semua itu bukan sekadar “bencana alam”. Itu adalah tanda terganggunya keseimbangan bhuana agung dan bhuana alit.
Manusia Bali sesungguhnya telah memiliki konsep luhur yang menjadi Visi Pemprov Bali, bernama Sad Kerthi, salah satunya Wana Kerthi — upaya memuliakan dan menjaga hutan sebagai sumber kehidupan. Hutan bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan:
-penyimpan air,
-penjaga kesuburan tanah,
-pelindung kehidupan,
-dan kawasan suci penyangga harmoni alam.
Ketika prinsip Wana Kertih tidak dijalankan dengan benar, maka yang muncul adalah apa yang dalam lontar disebut sebagai merana. Bukan hanya hama pertanian, tetapi:
-kerakusan pembangunan,
-eksploitasi tanpa batas,
-politik tanpa kebijaksanaan,
-bisnis tanpa moral,
-serta manusia yang memutus hubungan spiritual dengan alam.
Akibatnya sangat nyata:
-hujan kecil menjadi banjir,
-kemarau menjadi krisis air,
-gunung kehilangan daya serap,
-sungai berubah menjadi saluran lumpur,
-laut dipenuhi sampah,
-dan masyarakat hidup dalam kecemasan ekologis.
Dalam perspektif Bali kuno, kerusakan hutan sesungguhnya adalah kerusakan kesadaran manusia. Karena itu solusi tidak cukup hanya:
-mengeruk sungai,
-membersihkan sampah,
-atau menanam pohon secara simbolis.
Yang lebih penting adalah membangun kembali kesadaran Wana Kerthi:
-menghormati kawasan hulu,
-membatasi kerakusan pembangunan,
-menjaga mata air,
-menghidupkan kembali hutan adat,
-serta menempatkan alam bukan sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai bagian dari kehidupan suci.
Rogha Sanggara Bumi seakan mengingatkan:
ketika manusia melupakan dharma terhadap alam, maka alam akan mengembalikan pelajaran itu melalui penderitaan.
Bali selama ini dikenal dunia karena keindahan alam dan spiritualitasnya. Namun jika hutan terus digunduli, sungai terus dicemari, dan pesisir terus dirusak, maka bukan hanya lingkungan yang hilang — melainkan juga roh peradaban Bali itu sendiri.
Di sinilah ajaran lontar kuno menjadi sangat relevan bagi zaman modern: bahwa menjaga hutan sesungguhnya bukan hanya tugas ekologis, tetapi juga laku spiritual dan dharma kehidupan.
Semoga renungan ini bermanfaat, dan jika ada kesalahan atau kekeliruan, mohon dapat dimaafkan.
Om Shanti, Shanti, Shanti Om
IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta