Di dalam Wana Parwa, ada kisah yang sangat mengharukan tentang cinta yang diuji oleh kehilangan, kehormatan yang runtuh oleh kelemahan, dan kesetiaan yang tidak padam meskipun hidup berubah menjadi hutan penderitaan. Itulah kisah Nala dan Damayanti.
Om Swastyastu,
Nala adalah raja yang mulia, tampan, gagah, dan dicintai rakyatnya. Damayanti adalah putri yang lembut, bijaksana, dan setia. Keduanya saling mencintai bahkan sebelum bertemu. Ketika akhirnya Damayanti memilih Nala sebagai suami, pilihan itu bukan sekadar pilihan hati, melainkan sumpah jiwa.
Namun kehidupan tidak selalu menjaga kebahagiaan orang baik. Nala jatuh dalam permainan dadu. Kerajaan hilang, kehormatan runtuh, pakaian kebesaran tanggal, dan hidup yang dahulu penuh kemuliaan berubah menjadi pengembaraan penuh derita. Nala dan Damayanti masuk ke hutan, bukan sebagai raja dan ratu, melainkan sebagai manusia yang kehilangan segala-galanya.
Yang paling mengharukan adalah ketika Nala, dalam kebingungan dan penderitaan batin, meninggalkan Damayanti saat ia tertidur. Bukan karena tidak mencintai, tetapi karena merasa dirinya telah menjadi sumber celaka bagi perempuan yang dicintainya. Ia berpikir, mungkin Damayanti akan lebih selamat tanpa dirinya.
Tetapi bagi Damayanti, ditinggalkan di hutan bukan akhir dari cinta. Ia bangun dalam kesunyian, memanggil nama suaminya, mencari jejaknya, menangis di antara pohon-pohon, tetapi tidak membiarkan kesedihan menghancurkan martabatnya. Ia terluka, tetapi tidak kehilangan kesetiaan. Ia sendiri, tetapi tidak kehilangan keberanian.
Damayanti mengajarkan bahwa cinta sejati bukan hanya duduk bersama saat istana masih terang. Cinta sejati tetap mengingat ketika orang yang dicintai sedang jatuh, rusak, malu, bahkan kehilangan dirinya sendiri. Ia tidak membenarkan kesalahan Nala, tetapi ia juga tidak membuang kasihnya.
Kisah ini mengajarkan bahwa dalam hidup, seseorang bisa kehilangan harta, kedudukan, rupa, bahkan rasa percaya diri. Tetapi selama dharma belum padam, masih ada jalan pulang. Nala akhirnya belajar dari kejatuhannya. Damayanti tetap menjaga nyala cinta dan kehormatan. Mereka dipertemukan kembali bukan hanya sebagai suami istri, tetapi sebagai dua jiwa yang telah ditempa oleh penderitaan.
Dari kisah Nala dan Damayanti, kita belajar bahwa kesetiaan bukan berarti tidak pernah terluka. Kesetiaan adalah keberanian untuk tetap menjaga cahaya, bahkan ketika orang yang kita cintai sedang berada dalam malam tergelap hidupnya.
Demikian cuplikan kisah dari Buku Wana Parwa terbitan Kawi Sastra Mandala, semoga bermanfaat.
Om Santi, Santi, Santi
IBM Jaya Martha