Pagi itu, seorang sulinggih duduk tenang di bale pesamuhan. Tidak banyak kata yang diucapkan, tetapi dari sikapnya—tenang, lembut, dan penuh perhatian—orang-orang sudah merasakan kesejukan. Inilah yang sesungguhnya diajarkan dalam Sanghyang Siwa Sasana.
“Kayika wacika manacika,
subha karmmani yogyantu,
tri kayani kavyate.”
Om Swastyastu,
Artinya: perbuatan, ucapan, dan pikiran harus diarahkan pada kebajikan. Itulah yang disebut Tri Kaya.
Ajaran ini terlihat sederhana, tetapi bagi seorang sulinggih, inilah inti segalanya. Seorang rohaniwan tidak diukur dari pakaian putihnya, gelarnya, atau seberapa sering ia memimpin upacara. Ia diukur dari hal yang lebih dalam—apakah pikirannya jernih, ucapannya menenangkan, dan perbuatannya memberi teladan.
Di zaman sekarang, tantangan itu jauh lebih nyata. Seorang sulinggih tidak hanya berada di pura, tetapi juga hadir di tengah masyarakat yang dinamis, bahkan di ruang digital yang penuh komentar dan emosi. Di situlah Tri Kaya benar-benar diuji.
Bayangkan jika seorang sulinggih berbicara tentang dharma, tetapi mudah terpancing marah. Mengajarkan kasih, tetapi ucapannya melukai. Mengingatkan umat untuk hidup benar, tetapi perilakunya sendiri tidak sejalan. Maka yang hilang bukan sekadar kepercayaan, tetapi juga wibawa dharma itu sendiri.
Sebaliknya, sulinggih yang menjaga Tri Kaya akan menjadi cahaya tanpa harus banyak berkata. Ia menenangkan tanpa menggurui, mengingatkan tanpa menyakiti, dan membimbing tanpa memaksa. Bahkan diamnya pun menjadi ajaran.
Inilah yang ingin ditegaskan oleh Sanghyang Siwa Sasana:
bahwa dharma tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupi.
Dan pada akhirnya, umat tidak hanya mendengar apa yang dikatakan, tetapi merasakan siapa yang berbicara.
Semoga bermanfaat, dan jika ada kekeliruan mohon dapat dimaafkan.
Om Shanti, Shanti, Shanti Om
IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta