Upaya Alih Bahasa dan Implementasi Ajaran Dharma Putus

Ada satu ajaran yang semakin lama semakin terasa benar dalam perjalanan hidup saya: bahwa karya yang lahir dari keikhlasan akan menumbuhkan keteguhan. Bukan keteguhan karena banyak orang…

Ada satu ajaran yang semakin lama semakin terasa benar dalam perjalanan hidup saya: bahwa karya yang lahir dari keikhlasan akan menumbuhkan keteguhan. Bukan keteguhan karena banyak orang memuji, bukan pula karena pasar menyambut dengan gegap gempita, tetapi keteguhan yang tumbuh perlahan dari kesadaran bahwa sesuatu memang patut dikerjakan.

“Ri telasira macintya tan kangen ring malatis… Ya ta kahilangan ikang wwang pet prihening swakaryya, wekasi-wekasing dharmma wwaswasana ring swacitta…”
— Dharma Putus, 6a

Terjemahan bebas:

“Ketika seseorang telah merenung dengan hening, tidak lagi terpikat oleh hal-hal yang memikat lahiriah…di sanalah lenyap kegelisahan orang yang mencari kejernihan dalam tugasnya sendiri. Akhir dari dharma adalah keyakinan yang teguh di dalam hati sendiri.”

Om Swastyastu,

Dalam Dharma Putus tersirat ajaran tentang prihening swakaryya—mencari kejernihan dalam karya sendiri. Bagi saya, ini sangat dekat dengan pengalaman alih bahasa karya-karya pujangga lama. Pada awalnya, pekerjaan ini tidak dimulai dari perhitungan bisnis. Tidak ada keyakinan bahwa buku-buku lontar berbahasa Kawi akan menjadi produk yang laris. Bahkan sejak awal saya sadar, celah pasarnya sempit. Tidak banyak generasi muda yang langsung tertarik pada lontar, bahasa Kawi, tattwa, susastra, atau ajaran-ajaran tua yang selama ini tersimpan dalam naskah tradisional.

Tetapi justru di sana letak panggilan itu.

Sebagai penyuluh, saya merasa ada swadharma yang harus dijalankan. Karya para pujangga lama terlalu berharga untuk hanya menjadi bacaan segelintir orang yang mampu membaca aksara atau memahami bahasa Kawi. Di dalamnya tersimpan kebijaksanaan, tuntunan hidup, etika, tattwa, dan cara leluhur memandang manusia, alam, Tuhan, serta jalan pembebasan batin. Bila karya itu tidak dialihbahasakan, maka generasi muda akan semakin jauh dari sumber aslinya.

Karena itu, saya mulai menulis. Menerjemahkan. Mengulas. Menyusun kembali agar dapat dibaca oleh umat masa kini. Bukan untuk menjadi terkenal. Bukan untuk mengejar keuntungan besar. Bukan pula karena yakin akan banyak orang yang membeli. Dorongan utamanya sederhana: merasa wajib menjalankan swadharma.

Ajaran Dharma Putus mengingatkan bahwa seseorang perlu sampai pada keadaan tan kangen ring malatis—tidak lagi terlalu terpikat oleh hal-hal yang memikat di luar. Dalam konteks berkarya, “malatis” itu bisa berupa pujian, nama besar, angka penjualan, popularitas, atau pengakuan. Semua itu boleh datang, tetapi tidak boleh menjadi pusat. Bila karya digantungkan pada hasil, batin mudah goyah. Bila tidak banyak yang membeli, semangat turun. Bila tidak banyak yang memuji, hati kecewa. Bila tidak segera dikenal, rasa lelah muncul.

Tetapi bila karya diletakkan sebagai swadharma, maka ukurannya berubah. Yang penting bukan seberapa besar tepuk tangan yang diterima, melainkan apakah tugas itu sudah dijalankan dengan tulus. Yang penting bukan seberapa luas pasar yang terbuka, melainkan apakah ada jalan kecil yang berhasil dibuat agar generasi berikutnya dapat membaca kembali warisan leluhur.

Saya menyadari, alih bahasa lontar bukan pekerjaan yang ringan. Ia memerlukan kesabaran, ketelitian, dan kerendahan hati. Kadang satu istilah tidak mudah diterjemahkan. Kadang satu kalimat Kawi menyimpan makna berlapis. Kadang teks terasa jauh dari cara berpikir manusia modern. Tetapi justru di situlah proses batin terjadi. Menerjemahkan bukan sekadar memindahkan kata, melainkan ikut memasuki dunia batin para pujangga.

Tanpa terasa, dalam kurun waktu sekitar lima tahun, hampir 40 judul telah selesai dikerjakan. Bila sejak awal yang dikejar adalah hasil besar, mungkin langkah ini sudah berhenti di tengah jalan. Tetapi karena dikerjakan sebagai kewajiban, satu demi satu naskah selesai. Satu buku melahirkan buku berikutnya. Satu lontar membuka pintu kepada lontar lainnya. Kecil, perlahan, tetapi terus berjalan.

Awal tahun 2026, saya sudah tidak lagi menjadi penyuluh. Namun jalan dharma ternyata tidak berhenti. Saya kemudian diajak menjadi pengurus PHDI DKI Jakarta, pada bidang pendidikan dan kebudayaan. Bagi saya, ini seperti tanda bahwa swadharma dapat berubah bentuk, tetapi inti panggilannya tetap sama: ikut menjaga, meneruskan, dan memperkenalkan ajaran dharma kepada umat, khususnya generasi muda.

Dari perjalanan ini saya belajar bahwa ketidaktergantungan pada hasil bukan berarti tidak peduli pada hasil. Kita tetap bekerja sebaik mungkin. Buku harus disusun dengan layak. Bahasa harus dibuat mudah dipahami. Tampilan harus menarik. Distribusi harus diupayakan. Tetapi batin tidak boleh diperbudak oleh hasil. Bila hasilnya kecil, tetap bersyukur. Bila hasilnya besar, tetap rendah hati. Bila belum banyak yang membaca, tetap melanjutkan. Bila kelak ada yang terbantu, itu sudah menjadi anugerah.

Maka alih bahasa karya-karya pujangga lama bagi saya bukan hanya kegiatan literasi. Ia adalah latihan dharma. Latihan untuk ikhlas. Latihan untuk tekun. Latihan untuk tidak melekat pada pujian dan keuntungan. Latihan untuk tetap bekerja, meskipun pasar sempit dan peminat terbatas.

Semoga buku-buku yang telah lahir dari proses ini dapat menjadi jembatan kecil antara generasi muda dan kebijaksanaan leluhur. Tidak harus semua orang membaca. Tidak harus semua orang memahami sekaligus. Tetapi bila ada satu dua orang yang tersentuh, bila ada anak muda yang mulai mengenal Kawi, bila ada umat yang menemukan tuntunan hidup dari lontar lama, maka karya ini sudah menemukan jalannya.

Inilah yang saya pahami dari Dharma Putus: pada akhirnya, dharma bukan sekadar wacana. Dharma harus menjadi karya. Dan karya yang dilaksanakan dengan ikhlas akan menumbuhkan keteguhan di dalam hati.

Semoga renungan ini bermanfaat bagi pembaca.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta

Bagikan artikelWhatsApp